Powered By Blogger

Minggu, 11 Januari 2015

Speeding Up The Process dalam Pemanduan Bakat Olahraga


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan modern olahraga telah menjadi tuntutan dan kebutuhan hidup supaya lebih sejahtera. Olahraga semakin diperlukan oleh manusia dalam kehidupan yang semakin kompleks dan serba otomatis. Olahraga bertujuan supaya manusia dapat mempertahankan eksistensinya terhindar dari berbagai gangguan atau disfungsi sebagai akibat penyakit kekurangan gerak (hypokinesis disease). Olahraga yang dilakukan dengan tepat dan benar akan menjadi faktor penting yang sangat mendukung untuk pengembangan potensi dini.
Kesehatan, kebugaran jasmani, dan sifat-sifat kepribadian yang unggul adalah faktor yang sangat menunjang untuk pengembangan potensi diri manusia. Kualitas sumber daya manusia dapat diarahkan pada peningkatan pengendalian diri, tanggung jawab, disiplin, sportivitas yang tinggi yang mengandung transfer nilai bagi bidang lainnya melalui pembinaan olahraga yang sistematis. Peningkatan prestasi olahraga dapat membangkitkan kebanggaan nasional dan ketahanan nasional secara menyeluruh.
Masalah paling kritis dalam pembangunan olahraga nasional dewasa ini adalah ketidakmampuan seluruh instansi keolahragaan untuk melaksanakan upaya pembinaan yang berlandaskan pada sebuah sistem manajemen yang mantap. Kinerja program pemanduan bakat dan pembibitan olahraga yang dilaksanakan di Indonesia masih kurang sistematis, sehingga perlu diciptakan model dan perencanaan program pamanduan bakat yang lebih sistematis untuk mendukung pembinaan yang berjenjang dan berkesinambungan. Perencanaan program pemanduan bakat tersebut dapat melalui penerapan metode yang tepat dengan memanfaatkan iptek olahraga.
Atlet berbakat yang berhasil diindetifikasi perlu dibina melalui pusat pembinaan. Pusat pembinaan dapat melalui PPLP atau PPLM. Pembinaan olahraga saat ini masih bersifat sporadis dan kurang didasarkan pada orientasi jangka panjang. Pencapaian prestasi olahraga memerlukan waktu cukup panjang antara 10-12 tahun untuk dapat mencapai puncak usia prestasi. Peran pendidikan jasmani juga berperan dalam pencapaian prestasi olahraga terutama pada atlet berbakat.
Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara total yang berkontribusi pada perkembangan bakat olahraga melalui media alamiah aktivitas jasmani. Pendidikan jasmani merupakan urutan pengalaman belajar yang direncanakan secara seksama. Olahraga atau pendidikan jasmani melalui olahraga dirancang untuk memenuhi perkembangan dan kebutuhan perilaku setiap anak. Pendidikan jasmani dimulai dari usia yang sangat dini. Pendidikan jasmani merangsang pembentukan pertumbuhan fisik, motorik, intelektual, sosial, dan emosional yang memiliki peranan penting dalam mempercepat proses perkembangan bakat anak.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.      Apa yang dimaksud dengan bakat olahraga?
2.      Apa yang dimaksud dengan mempercepat proses perkembangan bakat anak?
3.      Mengapa pemanduan bakat diperlukan untuk mempercepat proses perkembangan bakat anak?
4.      Siapa saja yang berperan dalam mempercepat proses perkembangan bakat anak?
5.      Bagaimana cara untuk mempercepat proses pemanduan bakat anak?
C.    Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui kajian tentang perkembangan bakat dan pemanduan bakat serta peran orang tua dan pelatih dalam mempercepat proses perkembangan bakat anak.
D.    Manfaat
Penulisan makalah ini bermanfaat untuk mengetahui kajian tentang perkembangan bakat dan pemanduan bakat serta peran orang tua dan pelatih dalam mempercepat proses perkembangan bakat anak.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Bakat Olahraga
Alex (2003: 181) berpendapat bahwa bakat merupakan kemampuan bawaan berupa potensi khusus dan jika memperoleh kesempatan berkembang dengan baik, akan muncul sebagai kemampuan khusus dalam bidang tertentu sesuai potensinya. Bakat merupakan kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih untuk mencapai suatu kecakapan, pengetahuan, dan keterampilan khusus. Bakat merupakan karunia yang diberikan Tuhan kepada seluruh manusia, tetapi setiap manusia mempunyai bakat atau kemampuan yang berbeda. Bakat mengandung makna kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangan atau dilatih supaya dapat terwujud. Bakat merupakan suatu kondisi yang dimiliki individu yang memungkinkan individu itu untuk berkembang pada masa mendatang.
Berdasarkan tinjauan di atas dapat disimpulkan bahwa bakat merupakan kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Bakat bersifat umum dan bersifat khusus. Bakat umum atau gifted merupakan kemampuan yang berupa potensi tersebut bersifat umum (intelektual atau kecerdasan). Bakat khusus atau talent merupakan kemampuan bersifat khusus (bakat akademik, sosial, seni kinestetik, dan olahraga).
Sumadi (2008: 165) mengemukakan bahwa bakat dalam dimensi psikologis dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: dimensi perseptual, dimensi psikomotor, dan dimensi intelektual.
1.      Dimensi perseptual meliputi kemampuan dalam mengadakan persepsi, faktor-faktornya antara lain meliputi: kepekaan indera, perhatian, orientasi ruang, orientasi waktu, luasnya daerah persepsi, dan kecepatan persepsi.
2.      Dimensi psikomotor mencakup enam faktor, yaitu: kekuatan, impuls, kecepatan gerak, ketelitian, koordinasi, dan keluwesan (flexibility).
3.      Dimensi intelekual meliputi: ingatan, pengenalan, evaluatif, dan berfikir divergen.
Dwi (2012: 9) berpendapat pemanduan bakat mengandung tiga pengertian, yaitu: identifikasi bakat, seleksi bakat, dan pengembangan bakat.
1.      Identifikasi bakat adalah penjaringan terhadap anak dan remaja dengan menggunakan tes-tes jasmani, fisiologis, dan keterampilan tertentu untuk mengidentifikasi potensi-potensi yang dimiliki.
2.      Seleksi bakat merupakan penjaringan atlet-atlet muda yang sedang berpartisipasi dalam olahraga yang dilakukan oleh para pelatih berpengalaman dengan menggunakan tes-tes jasmani, fisiologis, dan keterampilan tertentu. Seleksi bakat ini berupaya untuk melakukan identifikasi terhadap atlet yang mempunyai kemungkinan paling berhasil dalam cabang olahraga yang diikutinya.
3.      Pengembangan bakat olahraga merupakan proses pemilihan calon atlet pada tahap berikutnya. Pada tahap ini atlet harus diberikan sarana dan prasarana memadai yang memungkinkan atlet dapat mengembangkan potensinya secara penuh. Pemberian sarana dan prasarana ini termasuk di dalamnya kepelatihan yang tepat dan program latihan serta kompetisi yang sejalan dengan dukungan fasilitas, peralatan, dan keilmuan.
Dasar dari sistem pengembangan bakat ini adalah suatu proses latihan jangka panjang, sistematis, dan berorientasi kepada sasaran. Bakat menampakan dirinya hanya dalam aktivitas praktis. Model struktur dari peningkatan bakat harus diatur sedemikian rupa sehingga ada interaksi antara penilaian latihan dan bakat.
Tujuan pemanduan bakat adalah untuk mengikutsertakan sebanyak mungkin anak-anak dalam proses pemanduan (screening). Kemungkinan untuk menemukan suatu bakat akan meningkat bila lebih banyak anak-anak diikutkan dalam proses pemilihan.
B.     Identifikasi Bakat Olahraga
Di Cagnio (2008: 345) berpendapat identifying the most talent athletes to involve in an organized training program is one of the most important concerns of sport. Mengidentifikasi atlet berbakat untuk terlibat dalam suatu program pelatihan yang diselenggarakan merupakan salah satu masalah yang paling penting dari olahraga. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Bompa (1999: 273) the process of identifying the most talented athletes to involve in an organized training program is one of the most important concerns of contemporary sports. Proses identifikasi atlet berbakat untuk terlibat dalam suatu program pelatihan yang diselenggarakan merupakan masalah yang paling penting dalam bidang olahraga. Tujuan utama identifikasi bakat adalah untuk mengidentifikasi dan memilih para atlet yang memiliki kemampuan dalam bidang olahraga.
Lakin (2011: 595) mengemukakan bahwa effective talent-identification procedures minimize the proportion of students whose subsequent performance indicates that they were mistakenly included in or excluded from the program. Prosedur identifikasi bakat yang efektif meminimalkan kemampuan siswa yang tidak sesuai proporsinya. Prosedur tersebut dapat mengindikasi bahwa siswa layak untuk mengikuti suatu program pemanduan bakat lebih lanjut. Siswa yang kemampuannya tidak sesuai dengan prosedur, maka siswa tersebut akan dikeluarkan dari program yang telah dilaksanakan. Kesalahan pengidentifikasian terjadi ketika siswa yang diperkirakan unggul ternyata tidak berprestasi atau sebaliknya.
Pengidentifikasian bakat olahraga adalah tahapan penting yang dijadikan sebagai pondasi keberhasilan sistem pembinaan prestasi olahraga. Berhasil atau tidaknya sistem pembinaan prestasi olahraga prestasi sangat dipengaruhi oleh proses pengidentifikasian bakat yang dilakukan. Kesalahan dalam melakukan proses pengidentifikasian bakat akan menyebabkan terjadi ketidakmenentunya prestasi atau regenerasi atlet terhambat. Kesalahan pengidentifikasian bakat ini juga dapat mengakibatkan kegagalan dalam proses pembinaan prestasi olahraga. Atlet akan mengalami kesulitan dalam upaya meraih prestasi secara optimal.
Tujuan utama dari pengidentifikasian bakat adalah untuk mengenali dan memilih atlet-atlet yang memiliki kemampuan lebih pada cabang olahraga tertentu. Tujuan pemanduan bakat adalah untuk memperkirakan seberapa besar bakat seseorang untuk berpeluang dalam menjalani program latihan sehingga mampu mencapai prestasi yang tinggi.
Djoko Pekik (2002: 35) mengemukakan keuntungan proses identifikasian bakat sebagai berikut:
1.      Mempersingkat waktu pencapaian prestasi.
2.      Efisiensi biaya dan tenaga.
3.      Meningkatkan daya saing.
4.      Meningkatkan rasa percaya diri atlet.
5.      Fasilitas penerapan latihan berdasarkan pendekatan ilmiah.
Penggunaan kriteria ilmiah pada proses identifikasi bakat mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut:
1.      Mengurangi waktu yang diperlukan untuk mencapai kemampuan yang tertinggi dengan memilih individu yang berbakat pada olahraga tersebut.
2.      Mengurangi volume kerja serta energi yang harus dikerjakan pelatih. Efektivitas latihan yang diberikan pelatih juga didukung oleh keefektivitasan atlet yang mempunyai kemampuan lebih tersebut.
3.      Meningkatkan suasana kompetitif dan jumlah atlet yang dimasukkan serta pencapaian kemampuan yang tinggi. Hasilnya akan diperoleh tim nasional yang baik serta lebih kuat untuk penampilan pada tingkat internasional.
4.      Meningkatkan kepercayaan diri atlet tersebut karena tampilan lebih baik dibandingkan dengan atlet lain pada usia yang sama yang tidak melalui proses seleksi.
5.      Memberikan motivasi pada penerapan pelatihan ilmiah. Asisten pelatih olahraga yang membantu dalam pengenalan bakat termotivasi untuk terus memantau latihan atlet.
C.    Peran Orang Tua dan Guru Penjas dalam Proses Perkembangan Bakat
Sebagian besar orang tua membiarkan anaknya untuk mengembangkan keterampilan olahraga dengan memanfaatkan olahraga yang sudah ada di tempat sekolah. Anak akan mengikuti kegiatan kelas atau mata pelajaran olahraga yang ada. Pola pikir orang tua yang seperti ini cenderung lebih bagus dalam meningkatkan bakat dan mengetahui bakat anak dalam bidang olahraga dengan memberikan berbagai macam cabang olahraga yang diajarkan di sekolah.
Sebagian besar siswa dalam suatu kelas mempunyai kemampuan yang standar, akan tetapi ada beberapa siswa yang mempunyai kemampuan lebih dari siswa yang lain. Siswa yang mempunyai kemampuan lebih tersebut kemungkinan besar ada bakat dalam bidang olahraga tertentu. Hal ini perlu diperhatikan oleh seorang guru penjas supaya siswa berbakat tersebut dapat meningkatkan bakatnya dan dapat berprestasi dalam olahraga tertentu. Siswa yang memiliki bakat dalam olahraga pasti akan memiliki kebugaran fisik dan keterampilan yang baik. Siswa berbakat tersebut tidak akan merasa kelelahan yang berlebih apabila dibandingkan dengan siswa lain saat mengikuti proses pembelajaran.
Seorang guru penjas memiliki peranan penting dalam memperkenalkan berbagi macam olahraga kepada anak sedini mungkin. Pendidikan jasmani memiliki peranan penting dalam menunjang perkembangan anak. Pendidikan jasmani diharapkan dapat mengembangkan aspek jasmani, psikologi, motorik, kognitif, afektif, sosial dan emosional sehingga dapat menunjang proses perkembangan bakat yang dimilikinya.
Seorang anak yang berbakat tidak ada batasan dalam satu cabang olahraga untuk memulai mengikuti dan menekuni cabang olahraga tertentu. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti usia minimal dalam cabang olahraga tersebut, kesiapan fisik, kesiapan mental, dan kemauan anak untuk mengikuti dan menekuni cabang tersebut. Tanpa adanya kemauan dan kesiapan dari anak, maka proses perkembangan bakatnya akan terganggu dan justru akan cenderung menghambat proses perkembangan bakat.
Supaya anak dapat berprestasi dan proses perkembangan bakatnya dalam bidang olahraga dapat tercapai dengan baik, seorang tidak harus mengikuti pelatihan olahraga yang terorganisir. Bakat anak juga dapat dikembangkan melalui permainan dengan orang tua, mengikuti pendidikan jasmani di sekolah bersama guru penjas atau bermain dengan teman sebaya, misalnya seperti bermain lempar tangkap bola, balapan lari, lompat tali, dan bermain sepakbola tanpa aturan khusus.
Ketika seorang anak melakukan permainan dengan teman sebayanya tanpa diberi aturan-aturan yang mendasar oleh orang tua atau guru penjas, saat melakukan permainan tersebut secara tidak disadari anak-anak harus membuat aturan mereka sendiri. Anak dapat mengembangkan keterampilannya sendiri, merancang strategi sendiri, dan menyelesaikan kesulitan sendiri. Hal ini dapat mengembangkan proses kreatifitas, logika, kecerdasan sosial, dan emosional.
Jika orang tua terlalu memaksakan kehendak dan melarang anaknya beraktivitas olahraga yang mungkin takut akan resiko cedera, maka keputusan tersebut akan menghambat kreatifitas anak dan suatu saat anak akan malas berolahraga. Anak akan mencari kesibukan lain seperti menonton televisi atau bermain video game. Kegiatan tersebut di satu sisi bagus dalam hal pengetahuan akan teknologi, kecerdasan dalam bidang ilmu informatika, dan tangkas dalam bermain game, tetapi di sisi lain tumbuh kembang anak akan terganggu, kecerdasan sosial, dan emosional tidak berkembang baik. Hal tersebut akan memunculkan berbagai penyakit yang belum pernah dialami (kegemukan atau hypokinesis disease).
D.    Spesialisasi Cabang Olahraga
Anak memiliki kemampuan lebih dari satu cabang olahraga. Orang tua dan pelatih harus mampu memilihkan satu cabang olahraga yang harus ditekuni anak. Setelah memilih satu cabang olahraga yang sudah diminati, maka pelatih dan orang tua harus membimbing anak untuk menekuni cabang olahraga tersebut. Orang tua tidak boleh memaksakan anak untuk menekuni pada satu cabang olahraga yang telah dipilihnya, tetapi anak tetap boleh mengikuti cabang olahraga lain untuk mengembangkan potensi diri yang ada dan untuk mengembangkan kemampuan motoriknya.
Orang tua memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan bakat anaknya terutama perkembangan motoriknya. Orang tua harus selalu memberikan motivasi dan dorongan kepada anaknya. Anak akan bersemangat untuk melakukan aktivitas olahraga yang ditekuni apabila anak tersebut mendapatkan motivasi dan dorongan dari orang tuanya. Anak akan memperoleh prestasi maksimal yang diinginkan melalui olahraga yang ditekuninya tersebut.
E.     Memilih Pelatih
Seorang pelatih mempunyai tugas dan peran yang sangat penting. Wats & Wats (Djoko Pekik, 2002: 16) mengemukakan bahwa task of the coach is to help the athlete to achieve excellence. Tugas utama seorang pelatih adalah membantu atlet dalam proses mencapai kinerja tertinggi. Pelatih membantu atlet mulai dari pembibitan, pemanduan bakat, dan pembinaan sampai mencapai kinerja tertinggi. Seorang pelatih harus memahami dan menguasai ilmu kepelatihan serta seni melatih.
Pelatih yang baik adalah pelatih yang mempunyai dedikasi, antusias yang tinggi, kematangan jiwa, etika yang baik, jujur, disiplin dan konsen terhadap pembinaan prestasi serta memahami konsep pembinaan prestasi yang baik. Konsep pembinaan prestasi yang baik harus memahami pertumbuhan dan perkembangan atlet, menguasai media dan metode latihan dengan pendekatan ilmiah yang efektif. Seorang pelatih harus memahami cara berkomunikasi yang baik, mampu menyampaikan materi-materi latihan dengan jelas, dan dapat dipahami oleh semua atlet serta dapat menjadi contoh dan motivator bagi atletnya.
Pelatih harus mampu membina hubungan yang baik dengan orang tua dan atlet. Hal yang perlu diperhatikan antara pelatih dan orang tua dalam membina bakat olahraga pada anak adalah sebagai berikut:
1.      Komunikasi, seorang pelatih harus senantiasa berkomunikasi dengan orang tua terkait dengan proses latihan anak dan perkembangan anak selama dilatih.
2.      Konsistensi, pelatih yang baik senantiasa konsisten dalam cara mereka menangani atlet, orang tua, dan masalah-masalah yang dihadapi.
3.      Kemampuan, pelatih yang baik harus senantiasa melatih dan memberikan semangat pada atlet untuk berlatih keras.
4.      Perasaan, seorang pelatih harus memiliki kepekaan pada anak latihnya baik itu mengetahui perasaan anak latih dan problem yang dihadapi anak latih untuk selanjutnya dibicarakan dengan orang tua anak.
Seorang pelatih memiliki keinginan untuk mencapai kemampuan tertingginya terhadap proses pelatihan yang diberikan kepada atletnya. Pelatih dituntut tidak hanya mampu berperan dan bertugas dengan baik, tetapi pelatih perlu memahami dan menerapkan gaya kepemimpinan atau gaya melatihnya. Martens (2004: 30) mengemukakan bahwa most coach lean toward one of three coaching styles: the command style, the submissive style, and the cooperative style. Sebagian besar pelatih menggunakan gaya komando, gaya gaya kepatuhan, dan gaya kooperatif.
1.      Command Style (Gaya Komando)
Pelatih membuat semua keputusan kepada atletnya. Peran atlet dalam gaya melatih ini adalah untuk merespon atau melakukan perintah pelatih. Seorang pelatih harus memiliki pengetahuan dan pengalaman yang baik sehingga atlet dapat merespon perintah pelatih dengan baik. Peran seorang pelatih dalam melatih sangat mutlak. Atlet hanya dapat melakukan sebatas perintah yang diberikan olah pelatih.
2.      Submissive Style (Gaya Kepatuhan)
Pelatih yang mengadopsi gaya ini membuat keputusan sesedikit mungkin. Pelatih memberikan sedikit instruksi, memberikan bimbingan, dan menyelesaikan masalah hanya ketika diperlukan. Pelatih yang mengadopsi gaya ini tidak memiliki kompetensi untuk memberikan instruksi dan bimbingan serta terlalu malas untuk memenuhi tuntutan tanggung jawab pembinaan atlet.
3.      Cooperative Style (Gaya Kooperatif)
Pelatih yang memilih gaya koperasi ini pengambilan keputusannya bersama dengan atlet. Gaya kooperatif ini dapat mengajarkan atlet untuk membuat keputusannya sendiri, sehingga atlet akan lebih dewasa dalam hal pengambilan keputusan. Gaya kooperatif memberikan keseimbangan yang tepat antara mengarahkan atlet dan membiarkan atlet untuk mengarahkan dirinya sendiri.
F.     Metode Melatih
1.      Asrama Olahraga
Pelatihan olahraga di asrama dilakukan seperti rutinitas sehari-hari pada umumnya. Kelebihan dari pelatihan di asrama yaitu anak lebih mandiri, memiliki sosialisasi yang baik, dan dapat mengatur waktu secara tertib. Pengaturan makanan dapat berdampak negatif dalam pelatihan di asrama. Setiap anak memiliki selera makan yang berbeda, sehingga tidak semua anak menyukai makanan yang disediakan oleh pengelolah asrama. Hal ini kemungkinan dapat mengakibatkan tidak maksimalnya asupan gizi yang diterima oleh anak.
Hartono (2009: 215) mengemukakan bahwa Indonesia merintis pendirian sentra olahraga seperti pendirian Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) sebanyak 93 buah dan Pusat Pendidikan dan Latihan Mahasiswa (PPLM) sebanyak 15 buah yang tersebar di seluruh Indonesia. Pada proses pelatihan ini evaluasi selalu diberikan kepada atlet supaya ada perkembangan pada proses pelatihan. Selama pelatihan juga akan  dilakukan tes dan pengukuran yang teratur dengan durasi 3-4 bulan sekali. Selama pelatihan atlet diasramakan dan dilakukan kurang lebih 6 bulan. Menu makanan yang disajikan juga harus memenuhi standar gizi atlet yang diawasi oleh ahli gizi atau dokter.
Pelaksanaan proses pembinaan dan pelatihan perlu dilakukan secara teratur, terstruktur dan terprogram. Dalam pembuatan program tersebut harus melibatkan pengurus, pelatih, manajer, dan atlet. Metode latihan dan faktor-faktor lain perlu untuk dievaluasi untuk dapat mengetahui seberapa jauh ketercapaian program.
2.      Training Camp
Guru penjas dan pelatih memanfaatkan tersedianya data mengenai potensi dan bakat anak dari masing-masing sekolahnya untuk disalurkan pada program pemuncakan dalam bentuk training camp. Training camp adalah suatu program yang dirancang untuk menyediakan program yang selaras dengan misi peningkatan prestasi tanpa harus kehilangan dasar pengembangan dan menelantarkan landasan di tahap paling dasar. Program ini disediakan dalam bentuk sport centers, yang formatnya bisa bervariasi di antara kabupaten atau kota, sesuai dengan kemampuan dan ketersediaan fasilitas serta sumber daya manusianya.
Training camp dalam format sport center ini dimiliki oleh setiap kota atau kabupaten dan didasarkan pembagian wilayah. Jika sebuah kabupaten atau kota terdiri dari empat wilayah, maka minimal di satu wilayah terdapat satu sport centers. Masing-masing sport centers tersebut mampu menyediakan beberapa program training camp untuk cabang olahraga yang dijadikan andalan kabupaten atau kota tersebut.
Setiap sport centers dikelola oleh para profesional di bidangnya masing-masing. Program dan kegiatan yang ada selalu direncanakan dan diperbaiki secara berkala, sehingga mampu menampung para siswa potensial dan berbakat dari setiap jenjang sekolah. Program training camp ini dapat mendampingi dan melanjutkan program dari klub olahraga.
3.      Klub Olahraga
Klub olahraga merupakan suatu pelatihan yang sifatnya organisasi yang dilakukan bersama-sama dan jumlah peserta yang banyak. Program yang ditawarkan oleh klub-klub tersebut bervariasi dari yang sifatnya rekreatif hingga ke tingkat persiapan untuk memasuki olahraga prestasi. Hal ini biasanya ditunjang oleh kurikulum pengembangan yang jelas. Kurikulum tersebut biasanya merupakan pengadopsian dari sistem pembinaan yang dikembangkan oleh setiap induk organisasi olahraga, sehingga program klub olahraga ini jelas terpetakan posisinya.
Hartono (2009: 209) mengemukakan bahwa “...menciptakan suatu sistem pemanduan bakat dan pembibitan olahraga baik lewat jalur sekolah maupun lewat jalur prestasi olahraga dengan didukung oleh tenaga-tenaga yang profesional dan penanganan yang terpadu”. Peran dan tanggung jawab klub olahraga mempunyai peran yang sangat besar bagi perkembangan prestasi olahraga Indonesia di masa yang akan datang. Pembinaan sejak awal akan menentukan masa depan prestasi olahraga. Peran pelatih profesional diperlukan untuk keberhasilan proses pembinaan. Keberhasilan atau kegagalan pembinaan usia dini tergantung dari kemampuan pelatih. Program latihan yang bagus, sarana dan prasarana memadai, metode melatih yang tepat, pelatih berkualitas yang dapat mengenal karakteristik anak latih dari aspek fisik maupun psikologi diperlukan supaya proses pembinaan berjalan lancar.
Sebuah klub yang berkualitas harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
a.       Manajemen Organisasi yang Baik
Klub membutuhkan orang-orang yang paham dengan pengembangan pendidikan anak dan pengelolaan sebuah organisasi. Klub yang berkualitas memiliki struktur manajemen yang baik. Klub harus memiliki kepala sekolah, head coach, asisten pelatih di berbagai level usia, bendahara, fisioterapis, sekretaris bahkan public relation.
b.      Lapangan dan Peralatan Memadai
Klub seharusnya mempunyai lapangan dengan ukuran standar dan kualitas yang memadai. Kelengkapan peralatan juga sangat menentukan prestasi klub. Klub yang berkualitas akan menyediakan perlengkapan latihan hingga pertandingan resmi.
c.       Pelatih Bersertifikat
Seorang pelatih klub harus memiliki lisensi, sehingga pelatih akan paham dengan youth development.
d.      Program Latihan Terukur
Klub yang berkualitas akan memiliki program latihan yang terukur dan beracuan pada youth development. Misalnya dalam olahraga sepakbola, untuk U-10 yang identik dengan fun game, beberapa SSB ada yang sudah mewajibkan pemainnya menguasai minimal tiga dari tujuh dasar bermain bola. Hal ini harus dilakukan untuk membantu proses kenaikan ke jenjang yang lebih tinggi.
e.       Aktif Berkompetisi dan Berprestasi
Sebuah klub olahraga harus aktif berkompetisi dan berprestasi dengan tujuan untuk tetap konsisten terhadap pembinaan atletnya. Dalam olahraga sepakbola, FIFA menentukan bahwa SSB sebaiknya melakukan 600 jam pertandingan pertahunnya. Rata-rata SSB melakukan dua pertandingan resmi setiap minggu.
G.    Penggunaan Suplemen dalam Proses Pengembangan Bakat
Anwari (2007: 1) mengemukakan bahwa “…konsumsi nutrisi yang tepat dalam sehari-hari secara langsung juga akan memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan performa serta prestasi yang dapat diraih oleh seorang atlet”. Atlet yang memiliki tingkat kegiatan aktivitas fisik yang tinggi akan membutuhkan konsumsi nutrisi yang tepat komposisinya. Hal ini bertujuan supaya ketersediaan sumber energi di dalam tubuh dapat tetap terjaga baik untuk menjalankan aktivitas sehari-hari maupun saat akan menjalani program latihan maupun saat akan bertanding.
1.      Protein
Anna (2005: 81) mengemukakan bahwa protein merupakan komponen penting atau komponen utama sel hewan atau manusia. Protein yang terdapat dalam makanan berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukan dan pertumbuhan tubuh. Adanya protein dalam tubuh mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses kimia supaya proses tersebut berlangsung dengan baik.
Tubuh memperoleh protein dari makanan yang masuk dalam tubuh atau sistem pencernaan. Makanan tersebut berasal dari hewan atau tumbuhan. Protein yang berasal dari hewan disebut dengan protein hewani, sedangkan makanan yang berasal dari tumbuhan disebut dengan protein nabati. Makanan yang mengandung protein meliputi daging, susu, telur, beras, kacang, kedelai, gandum, jagung, dan buah-buahan.
Ellen Coleman (Brown, 2001: 84) mengemukakan bahwa the growing athlete needs more protein relative to body weight than does the adult athlete to support growth requirements. Atlet yang sedang dalam masa pertumbuhan membutuhkan protein yang lebih banyak untuk mendukung kebutuhan perkembangannya. Wein (2007: 14) berpendapat athletes routinely focus on protein as the primary macronutrient that will help them to gain size, improve body composition, and promote optimal performance. Atlet memfokuskan pada protein sebagai nutrisi utama yang akan membantu atlet untuk mendapatkan ukuran yang diinginkan, meningkatkan komposisi tubuh, dan menampilkan kinerja yang optimal.
Peningkatkan kebutuhan protein bagi atlet disebabkan karena atlet lebih beresiko untuk mengalami kerusakan jaringan otot terutama saat menjalani latihan atau pertandingan olahraga yang berat. Selain itu pada olahraga yang bersifat ketahanan (endurance) dengan durasi panjang sebagian kecil asam amino dari protein juga akan digunakan sebagai sumber energi terutama saat simpanan glikogen sudah semakin berkurang. Kebutuhkan konsumsi protein seorang atlet dalam kesehariannya akan relatif lebih besar jika dibandingkan dengan kebutuhan non-atlet.
2.      Lemak
Simpanan lemak akan memberikan kontribusi yang besar sebagai sumber energi utama bagi tubuh. Kontribusi simpanan lemak sebagai sumber energi tubuh baru akan berkurang apabila terjadi peningkatan intensitas dalam berolahraga. Pada saat terjadinya peningkatan intensitas olahraga yang juga akan meningkatkan kebutuhan energi, pembakaran lemak akan memberikan kontribusi yang lebih kecil jika dibandingkan dengan pembakaran karbohidrat untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam tubuh.
Pada saat berolahraga kompetitif dengan intensitas tinggi, pengunaan lemak sebagai sumber energi tubuh akibat dari mulai berkurangnya simpanan glikogen otot dapat menyebabkan tubuh terasa lelah sehingga secara perlahan intensitas olahraga akan menurun. Hal ini disebabkan karena produksi energi melalui pembakaran lemak berjalan lebih lambat jika dibandingkan dengan laju produksi energi melalui pembakaran karbohidrat. Pembakaran lemak akan menghasilkan energi yang lebih besar  jika dibandingan dengan pembakaran karbohidrat.
3.      Karbohidrat
Coyle (2004: 47) mengemukakan bahwa carbohydrate ingestion during prolonged exercise can benefit performance if fatigue is due to inadequate carbohydrate energy from blood glucose. Konsumsi karbohidrat selama latihan yang lama akan mendapatkan keuntungan dalam performanya, kelelahan terjadi karena energi karbohidrat yang tidak memadai dari glukosa darah. Singh (2005: 189) berpendapat carbohydrate is the main fuel used by the muscle during hard training and competition. Karbohidrat adalah bahan bakar utama yang digunakan oleh otot selama latihan keras dan kompetisi.
Pada saat berolahraga terutama olahraga dengan intensitas tinggi, kebutuhan energi bagi tubuh dapat terpenuhi melalui simpanan glikogen, terutama glikogen otot serta melalui simpanan glukosa yang terdapat di dalam aliran darah. Ketersediaan glukosa di dalam aliran darah ini dapat dibantu oleh glikogen hati supaya tetap berada pada keadaan normal. Proses pembakaran 1 gram karbohidrat akan menghasilkan energi sebesar 4 kkal. Walaupun nilai ini relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan energi hasil pembakaran lemak, namun proses metabolisme energi karbohidrat akan mampu untuk menghasilkan ATP dengan kuantitas yang lebih besar serta dengan laju yang lebih cepat jika dibandingkan dengan pembakaran lemak.
Metode yang menimbulkan banyak kontoversi dan berpotensi berbahaya dalam proses perkembangan bakat olahraga adalah penggunaan suplemen makanan. Suplemen tersebut memberikan manfaat bagi tubuh untuk menambah stamina, menambah masa otot, dan membuat tubuh atletis. Manfaat penggunaan suplemen belum teruji kebenarannya dan pastinya mempunyai resiko atau dampak pada tubuh. Resiko mengkonsumsi  suplemen tersebut akan mempengaruhi sistem kerja hati dan ginjal.
1.      Kreatin (Creatine)
Kreatin merupakan suplemen yang paling banyak digunakan oleh olahragawan. Beberapa pelatih menganjurkan kepada atletnya untuk menggunakan kreatin. Kreatin adalah bahan alami yang diproduksi tubuh dengan kombinasi dari tiga jenis asam amino. Kreatin ini memungkinkan seorang atlet untuk berolahraga lebih lama dan mencapai hasil yang lebih baik. Kreatin dapat membantu menyediakan cadangan energi bagi jaringan otot dan saraf. Kreatin banyak digunakan para atlet untuk membentuk otot. Kreatin juga mampu meningkatkan kemampuan otak dan daya ingat. Kreatin juga berfungsi sebagai zar ergogenik, yaitu zat yang mampu memberikan peningkatan pada kapasitas performa olahraga.
Kreatin merupakan senyawa yang terkandung dalam bahan makanan protein hewani, seperti daging, ikan, dan produk hewani lainnya. Bahan makanan tersebut berfungsi sebagai sumber kreatin oksigen. Kreatin dalam tubuh berfungsi sebagai sumber energi tinggi yang menghasilkan adenosine triphosphate atau ATP dan siap dipakai dalam waktu cepat.
Pengonsumsian kreatin perlu dijaga dosisnya. Dosis tinggi akan menimbulkan beberapa efek samping seperti mual dan muntah. Kreatin bisa menjadi suplemen yang membantu untuk meningkatkan prestasi olahraga dan harus diperhatikan dosis pemakaianya. Penggunaan terus menerus terutama dalam dosis tinggi dapat menimbulkan efek samping.
2.      Suplemen Protein
Suplemen protein sering digunakan olah para atlet yang menginginkan tubuh cepat berkembang ototnya. Penggunaan suplemen protein ini belum tentu aman dan mempunyai efek samping. Suplemen protein dalam dosis tinggi dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti kerusakan ginjal dan hati. Orang yang mengonsumsi protein dosis tinggi banyak yang menderita gangguan ginjal. Hal ini disebabkan tingginya jumlah protein yang harus dikeluarkan dan pengeluaran itu pastinya melalui ginjal untuk disaring terlebih dahulu. Tubuh memerlukan protein untuk pembentukan otot, tetapi penggunaan dalam jumlah yang besar dan dari bahan kimia justru akan mengganggu sistem metabolisme tubuh.
Penggunaan suplemen secara terus menerus pada seorang atlet akan bermanfaat terhadap tubuhnya dalam jangka pendek. Penggunaan suplemen secara berlebihan akan mengganggu sistem metabolisme tubuh yang dapat merusak organ dalam tubuh. Pemilihan suplemen yang salah dan belum teruji kemanfaatannya akan menghambat peningkatan performa atlet dan menghentikan proses perkembangan bakat atlet.



BAB III
KESIMPULAN

Bakat merupakan kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih untuk mencapai suatu kecakapan, pengetahuan, dan keterampilan khusus. Pemanduan bakat olahraga merupakan tahapan penting yang dijadikan sebagai pondasi keberhasilan sistem pembinaan prestasi olahraga. Berhasil atau tidaknya sistem pembinaan prestasi olahraga prestasi sangat dipengaruhi oleh proses pengidentifikasian bakat yang dilakukan. Kesalahan dalam melakukan proses pengidentifikasian bakat akan menyebabkan terjadi ketidakmenentunya prestasi atau regenerasi atlet terhambat.
Orang tua, guru, dan pelatih memiliki peranan penting dalam memantau perkembangan bakat olahraga anak dari usia dini hingga dewasa. Pemantauan tersebut bertujuan supaya proses perkembangan bakatnya dapat  berjalan dengan lancar. Guru penjas berperan dalam mengenalkan olahraga pada anak, membimbing anak sebagai siswa dalam pembelajaran penjas dan olahraga di sekolah serta menemukan bakat anak sedini mungkin. Pelatih memiliki peranan penting dalam mengembangkan bakat olahraga yang dimiliki oleh seorang anak.
Orang tua memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan bakat anaknya terutama perkembangan motoriknya. Orang tua harus selalu memberikan motivasi dan dorongan kepada anaknya. Anak akan bersemangat untuk melakukan aktivitas olahraga yang ditekuni apabila anak tersebut mendapatkan motivasi dan dorongan dari orang tuanya. Anak akan memperoleh prestasi maksimal yang diinginkan melalui olahraga yang ditekuninya tersebut.
Metode untuk mempercepat proses pemanduan bakat dapat melalui asrama olahraga, training camp, klub olahraga, dan penggunaan suplemen. Pelatihan olahraga di asrama dilakukan seperti rutinitas sehari-hari pada umumnya. Program dalam asrama olahraga dapat melalui Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) dan Pusat Pendidikan dan Latihan Mahasiswa (PPLM). Klub olahraga merupakan suatu pelatihan yang sifatnya organisasi yang dilakukan bersama-sama dan jumlah peserta yang banyak. Training camp adalah suatu program yang dirancang untuk menyediakan program yang selaras dengan misi peningkatan prestasi tanpa harus kehilangan dasar pengembangan dan menelantarkan landasan di tahap paling dasar.
Penggunaan bahan tambahan atau suplemen dapat berupa kreatin dan suplemen protein. Penggunaan suplemen secara terus menerus pada seorang atlet akan bermanfaat terhadap tubuhnya dalam jangka pendek. Penggunaan suplemen secara berlebihan akan mengganggu sistem metabolisme tubuh yang dapat merusak organ dalam tubuh. Manfaat penggunaan suplemen belum teruji kebenarannya dan pastinya mempunyai resiko atau dampak pada tubuh. Resiko mengkonsumsi suplemen tersebut akan mempengaruhi sistem kerja hati dan ginjal.
DAFTAR PUSTAKA

Alex Sobur. (2003). Psikologi umum dalam lintas sejarah. Bandung: Pustaka Setia.
Anna Poedjiadi. (2005). Dasar-dasar biokimia. Jakarta: UI-Press.
Anwari Irawan. (2007). Nutrisi, energi, dan performa olahraga. Polton Sports Science & Performance Lab, 1 (4), 1-12.
Bompa, Tudor O. (1999). Periodization: Theory and methodology of training, 4th edition. Champaign, Illinois: Human Kinetics.
Brown, Jim. (2001). Sports talent. Champaign, Illinois: Human Kinetics.
Coyle, Edward F. (2004). Fluid and fuel intake during exercise. Journal of Sports Sciences, 22, 39-55.
Di Cagnio, A., et.al. (2008). Leaping ability and body composition in rhythmic gymnasts for talent identification. Journal of Sports Medicine and Physical Fitness, 48 (3), 341-346.
Djoko Pekik Irianto. (2002). Dasar kepelatihan. Yogyakarta: UNY.
Dwi Santoso. (2012). Identifikasi dan pengembangan bakat olahraga. Pacitan: STKIP PGRI.
Hartono Hadjarati. (2009). Memberdayakan olahraga nasional. Jurnal Pelangi Ilmu, 2 (5), 204-220.
Lakin, Joni M., & Lohman, David F. (2011). The predictive accuracy of verbal, quantitative, and nonverbal reasoning tests: Consequences for talent identification and program diversity. Journal for the Education of the Gifted, 34 (4), 595-623.
Martens, Rainer. (2004). Successful coaching, 3rd edition. Champaign, Illinois: Human Kinetics.
Singh, Rabindarjeet. (2005). Nutritional requirements of athletes exercising in a hot environment. Malaysian Journal of Nutrition, 11 (2), 189-198.
Sumadi Suryabrata. (2008). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Gravindo.
Wein, D., et.al. (2007). Protein update: how much protein is enough?. NCSA’s Performance Training Journal, 6 (6), 1-21.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar