Powered By Blogger

Minggu, 11 Januari 2015

Sunrise Ranukumbolo

Closed Loop Theory


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Manusia tidak dapat mempertahankan hidupnya jika manusia tidak tahu adanya bahaya yang mengancam atau menimpa dirinya. Adanya bahaya dapat diketahui dengan jalan melihat, mendengar, dan mencium. Inilah yang disebut sebagai sistem sensorik. Sistem ini menerima ribuan informasi kecil dari berbagai organ sensoris, kemudian mengintegrasikan untuk menentukan reaksi yang harus dilakukan tubuh. Sebagian terbesar kegiatan sistem saraf  berasal dari pengalaman sensoris dari reseptor sensoris, baik berupa reseptor visual, reseptor auditorius, reseptor raba di permukaan tubuh, atau jenis reseptor lain. Pengalaman sensoris ini dapat menyebabkan suatu reaksi segera, atau kenangannya dapat disimpan di dalam otak dan dapat membantu menentukan reaksi tubuh di masa yang akan datang.
Proses awal dari pengamatan disebut dengan perhatian, sedangkan proses akhir disebut persepsi yang menyebabkan kita mempunyai pengertian tentang situasi sekarang atas dasar pengalaman yang lalu. Persepsi merupakan bentuk pengalaman yang belum disadari sebelumnya sehingga individu belum mampu membedakan dan melakukan pemisahan apa yang dihayati. Apabila pengalaman tersebut telah disadari  sehingga individu sudah mampu membedakan dan melakukan pemisahan antara  subjek dengan objek, maka hal tersebut disebut apersepsi. Apersepsi mengutamakan kualitas objek dalam pengamatan.
Usia dini merupakan usia pada masa keemasan seorang anak. Pada masa ini segala potensi pada usia ini harus dikembangkan secara menyeluruh dari segi kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan fisik motorik. Sehubungan dengan potensinya dalam perkembangan fisik motorik, anak usia dini memiliki energi yang tinggi. Energi ini dibutuhkan untuk melakukan berbagai kegiatan yang diperlukan dalam meningkatkan keterampilan fisik, baik yang berkaitan dengan peningkatan keterampilan motorik kasar maupun motorik halus. Kegiatan fisik dan pelepasan energi dalam jumlah besar merupakan karakteristik aktivitas anak pada masa ini. Hal itu disebabkan oleh energi yang dimiliki anak dalam jumlah yang besar tersebut memerlukan penyaluran melalui berbagai aktivitas fisik, baik kegiatan fisik yang berkaitan dengan gerakan motorik kasar maupun gerakan motorik halus. Pada bahan ajar ini akan disajikan tentang pengertian perkembangan motorik, prinsip-prinsip perkembangan motorik, kategori fungsi keterampilan motorik.
Materi yang dituangkan bahan ajar ini diharapkan dapat dijadikan dasar pegangan bagi pendidik, guru serta lingkungan terkait yang melibatkan peserta didik pada anak usia dini guna mengembangkan keterampilan motorik dan kontrol gerak sehingga anak dapat menyelesaikan tugas motoriknya dengan baik. Hal lain juga diharapkan anak dapat menampilkan tugas motorik yang diberikan dengan tingkat keberhasilan tertentu tidak hanya bagi anak tetapi juga untuk pendidik, guru dan orang tua nantinya.


B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian proses sensoris pada manusia?
2.      Apa pengertian kontrol gerak atau motorik?
3.      Apa pengertian closed loop theory?
4.      Bagaimana kontribusi closed loop theory pada gerak motorik?
5.      Bagaimana kontribusi closed loop theory pada gerak motorik pada penjas?
C.    Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk:
1.      Untuk mengetahui pengertian proses sensoris pada manusia.
2.      Untuk mengetahui pengertian closed loop theory.
3.      Untuk mengetahui kontribusi closed loop theory pada gerak motorik.
4.      Untuk mengetahui kontribusi closed loop theory pada gerak motorik pada penjas.
D.    Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan serta pengetahuan tentang kontribusi closed loop theory pada gerak motorik. Makalah ini juga dapat menjadi referensi tentang gerak motorik.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sensori
1.      Pengertian Proses Sensori
Proses sensorik adalah kemampuan untuk memproses atau mengorganisasikan input sensorik yang diterima. Biasanya proses ini terjadi secara otomatis, misalnya ketika mendengar suara  kicauan  burung,  otak  langsung  menterjemahkan  sebagai  bahasa  atau  suara  binatang. Secara umum proses sensorik juga dapat diartikan sebagai proses masuknya rangsang melalui alat indera ke otak (serebral) kemudian kembali melalui saraf motoris dan berakhir dengan perbuatan.
Proses sensoris disebut juga pengamatan, yaitu gejala mengenal  benda-benda  di sekitar  dengan mempergunakan alat indera. Pengamatan  dengan anggapan atau respon memiliki perbedaan. Pengamatan terjadi pada saat stimulus atau rangsangan mengenai indera dan menghasilkan kesadaran dan pikiran. Respon yaitu proses terjadinya kesan dari pikiran setelah stimulus tidak ada.
Proses awal dari pengamatan disebut dengan perhatian, sedangkan proses akhir disebut persepsi yang menyebabkan seseorang mempunyai pengertian tentang situasi sekarang atas dasar pengalaman yang lalu. Persepsi merupakan bentuk pengalaman yang belum disadari sebelumnya, sehingga individu belum mampu membedakan dan melakukan pemisahan apa yang dihayati. Apabila pengalaman tersebut telah disadari  sehingga individu sudah mampu membedakan dan melakukan pemisahan antara  subjek dengan objek. Hal tersebut disebut dengan apersepsi. Apersepsi merupakan yang mengutamakan pengamatan pada kualitas objek dan bukan kuantitas  objek.  Secara  psikolog perbedaan benda  yang diamati  bersifat  kualitatif dengan tidak mengabaikan proses fisiologi secara psikologi sikap seseorang dalam situasi itulah yang akan memberi arti.
2.      Macam-Macam Sensori pada Manusia
Ada lima macam alat indera pada tubuh manusia yaitu, indera penglihatan, indera penciuman, indera peraba, indera pendengaran, indera pengecap. Alat indera berfungsi untuk mensensor keadaan diluar, apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dicium, apa yang dirasakan, apa yang didengar dapat mempengaruhi perilaku keadaan sesesorang.
a.       Indera Penglihat
Mekanisme atau cara kerja indera penglihat (mata) adalah jika suatu benda terkena cahaya, benda akan memantulkan berkas-berkas cahaya tersebut. Pantulan cahaya tersebut masuk melalui lensa mata serta bagian-bagian lainnya menuju ke retina. Pada mata yang normal, bayangan benda akan jatuh tepat di bintik kuning pada retina. Rangsangan cahaya yang diterima oleh retina tersebut selanjutnya akan diteruskan oleh urat saraf penglihatan ke pusat penglihatan di otak untuk diinterpretasikan atau diterjemahkan. Akhirnya, dapat melihat benda tersebut. Mata normal (emetrop) merupakan mata yang dapat memfokuskan cahaya yang masuk tepat pada bintik kuning. Mata normal dapat melihat benda yang jauh maupun yang dekat. Jarak benda terjauh yang masih dapat dilihat dengan jelas oleh mata disebut titik jauh. Jarak benda terdekat yang masih dapat dilihat dengan jelas oleh mata disebut titik dekat. Titik dekat pada anak-anak umumnya masih dekat. Makin tua titik dekatnya umumnya makin jauh.
b.      Indera Pembau (Pencium)
Indera pembau pada tubuh kita berupa hidung. Di dalam rongga hidung bagian atas terdapat serabut-serabut saraf pembau dengan sel-sel pembau di ujungnya. Serabut-serabut saraf itu bergabung menjadi urat saraf pembau yang menuju pusat pembau di otak. Sel-sel pembau mempunyai rambut-rambut halus di ujungnya dan diliputi oleh selaput lendir yang berfungsi sebagai pelembap. Sel-sel pembau peka terhadap zat-zat kimia dalam udara (berupa gas atau uap). Saat tubuh terserang flu biasanya disertai dengan pilek. Pilek menyebabkan saluran pernapasan tersumbat, terutama pada bagian hidung. Saat pilek, hidung tidak peka terhadap bau (aroma) tertentu dan nafsu makan berkurang karena lidah tidak peka terhadap rasa.
Pada saat menarik napas, udara masuk ke dalam rongga hidung. Gas memasuki rongga hidung bercampur dengan lendir, kemudian menstimulasi ujung-ujung saraf. Impuls ini diteruskan ke saraf pembau di pusat saraf, dan akhirnya diinterpretasikan sebagai bau. Indera pembau (pencium) ini bersangkutan dengan indera pengecap. Jika terjadi gangguan pada indera pembau, tidak dapat mengecap dengan baik.
c.       Indera Peraba (Kulit)
Indera peraba pada tubuh manusia adalah kulit. Di kulit terdapat beberapa organ penginderaan khusus disebut reseptor. Reseptor merupakan percabangan akhir dendrit dari neuron sensorik. Beberapa reseptor tersusun atas beberapa dendrit dan ada yang mempunyai sel khusus. Tiap reseptor hanya cocok untuk jenis rangsang tertentu saja. Jika reseptor dirangsang, terjadi impuls sepanjang dendrit yang diteruskan ke sistem saraf pusat. Ada lima macam reseptor pada kulit, yaitu reseptor yang khusus untuk menanggapi rangsang yang berupa sentuhan, tekanan, sakit, panas, atau dingin. Sebagai contoh, reseptor rasa sakit merupakan reseptor dengan dendrit yang gundul, terdapat di seluruh permukaan kulit. Jika rangsang cukup kuat, misalnya rangsang mekanik, temperatur, listrik atau kimiawi, maka reseptor ini akan bereaksi. Sensasi rasa sakit yang timbul merupakan suatu upaya untuk proteksi (melindungi diri). Hal ini merupakan sinyal-sinyal (pertanda) bahwa ada ancaman bagi tubuh yang dapat menyebabkan luka-luka.
d.      Indera Pendengar (Telinga)
Indera pendengar bekerja dengan mekanisme dari gelombang suara yang akan masuk ke telinga bagian luar melalui saluran pendengaran dan akhirnya sampai pada membran timpani. Gelombang suara ini menggetarkan membran dan tulang martil. Selanjutnya tulang landasan dan tulang sangguardi ikut bergetar. Akhirnya tingkap bundar ikut bergetar juga. Getaran ini akan menggetarkan cairan di dalam rumah siput. Cairan yang bergetar menstimulasi ujung-ujung saraf. Impuls dari ujung saraf ini diteruskan ke saraf pendengar di otak besar. Kekhususan pola impuls ditentukan oleh pola gelombang suara yang diterima. Otak besar menerima impuls ini, kemudian menerjemahkannya dan kita mempersepsikannya sebagai suara.
e.       Indera Pengecap (Lidah)
Indera pengecapan merupakan hasil stimulasi ujung saraf tertentu. Pada manusia, ujung saraf pengecap berlokasi di kuncup-kuncup pengecap pada lidah. Kuncup-kuncup pengecap mempunyai bentuk seperti labu, terletak pada lidah di bagian depan hingga belakang. Makanan yang dikunyah bersama air liur memasuki kuncup pengecap melalui pori-pori bagian atas. Makanan akan merangsang ujung saraf yang mempunyai rambut, dari ujung tersebut pesan akan dibawa ke otak. Kemudian diinterpretasikan dan sebagai hasilnya kita dapat mengecap makanan yang masuk ke dalam mulut. Manusia hanya mampu mengecap empat macam cita rasa, yaitu rasa asam, asin, manis, dan pahit. Kuncup pengecap pada lidah untuk masing-masing rasa tersebut terletak di daerah yang berbeda. Untuk cita rasa manis berada di bagian ujung lidah sedangkan depan lidah untuk rasa asin. Kuncup pengecap untuk rasa asam ada di sisi lidah. Kuncup pengecap untuk cita rasa pahit berada di bagian belakang lidah. Inilah sebabnya apabila memakan makanan yang mempunyai rasa manis dan pahit sekaligus, maka yang terasa lebih awal adalah rasa manis barulah kemudian rasa pahit.
B.     Kontrol Gerak atau Motorik
1.      Hakikat Kemampuan Motorik
Kemampuan motorik berasal dari bahasa Inggris yaitu motor abilty. Gerak (motorik) merupakan suatu aktivitas yang sangat penting bagi manusia, karena dengan gerak (motorik) manusia dapat meraih sesuatu yang menjadi harapannya. Kemampuan motorik merupakan hasil gerak individu dalam melakukan gerak, baik gerak yang bukan gerak olahraga maupun gerak dalam olahraga atau kematangan penampilan keterampilan motorik. Kemampuan motorik mempunyai pengertian yang sama dengan kemampuan gerak dasar yang merupakan gambaran umum dari kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas. Aktivitas tersebut dapat membantu berkembangnya pertumbuhan anak. Berkembangnya kemampuan motorik ditentukan oleh dua faktor yaitu, faktor pertumbuhan dan faktor perkembangan. Menurut Sukintaka (2001: 47) kemampuan motorik merupakan perkembangan unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh, keterampilan motorik dan kontrol motorik. Keterampilan anak tidak akan berkembang tanpa adanya kematangan kontrol motorik. Kontrol motorik tidak akan optimal tanpa kebugaran tubuh. Kebugaran tubuh tidak akan tercapai tanpa latihan fisik. Aspek-aspek yang perlu dikembangkan untuk anak adalah motorik, kognitif, emosi, sosial, moralitas dan kepribadian
Sukadiyanto (1997: 70) mengemukakan bahwa kemampuan gerak adalah suatu kemampuan seseorang dalam menampilkan ketrampilan gerak yang lebih luas serta diperjelas bahwa kemampuan motorik suatu kemampuan umum yang berkaitan dengan penampilan berbagai keterampilan atau tugas gerak. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan bahwa kemampuan motorik adalah suatu kemampuan yang diperoleh dari keterampilan gerak umum, yang menjadi dasar untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan serta keterampilan gerak. Seseorang yang memiliki tingkat kemampuan motorik yang tinggi dapat diartikan bahwa orang tersebut memiliki potensi atau kemampuan untuk melakukan keterampilan gerak yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang memiliki kemampuan motorik rendah.
Amung Ma’mun & Yudha M. Saputra (2000: 20) menyatakan bahwa kemampuan gerak merupakan kemampuan yang biasa orang lakukan guna meningkatkan kualitas hidup. Kemampuan gerak dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:
a.       Kemampuan Lokomotor
Kemampuan lokomotor digunakan untuk memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain atau untuk mengangkat tubuh ke atas seperti, lompat dan loncat. Kemampuan gerak lainnya adalah berjalan, berlari, skipping, melompat, meluncur, dan lari seperti kuda berlari (gallop). Dalam bola voli kemampuan lokomotor contohnya adalah lompatan smash, berlari mengejar bola untuk di passing.
b.      Kemampuan Nonlokomotor
Kemampuan nonlokomotor dilakukan di tempat, tanpa ada ruang gerak yang memadai. Kemampuan non lokomotor terdiri dari menekuk dan meregang, mendorong dan menarik, mengangkat dan menurunkan, melipat, memutar, melingkar, melambungkan dan lain-lain. Dalam Bola voli kemampuan nonlokomotor contohnya adalah menekuk dalam  posisi siap untuk  passing bawah dengan kedua kaki ditekuk, melambungkan bola dalam mengumpan.
c.       Kemampuan Manipulatif
Kemampuan manipulatif dikembangkan ketika anak telah menguasai macam-macam obyek. Kemampuan manipulatif lebih banyak melibatkan tangan dan kaki, tetapi bagian lain dari tubuh kita juga dapat digunakan. Manipulasi objek jauh lebih unggul daripada koordinasi mata-kaki dan tangan-mata, yang mana cukup penting untuk item: berjalan (gerakan langkah) dalam ruang. Bentuk-bentuk latihan manipulatif terdiri dari:
1)      Gerakan mendorong (melempar, memukul, menendang).
2)      Gerakan menerima (menangkap) objek adalah kemampuan  penting yang dapat diajarkan dengan menggunakan bola yang terbuat dari bantalan karet (bola medicine) atau macam bola yang lain.
3)      Gerakan memantul-matulkan bola atau mengiring bola.

2.      Unsur-Unsur Kemampuan Motorik
Kemampuan motorik seseorang berbeda-beda tergantung pada banyaknya pengalaman melakukan gerakan yang dikuasainya. Kemampuan-kemampuan yang terdapat dalam kemampuan fisik yang dapat dirangkum menjadi lima komponen, yaitu kekuatan, kecepatan, keseimbangan, kelincahan dan koordinasi. Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam kemampuan motorik menurut Muthohir dan Gusril (2004: 50) adalah sebagai berikut:
a.       Kekuatan
Kekuatan adalah kemampuan sekelompok otot untuk menimbulkan tenaga sewaktu konstraksi. Kekuatan otot harus dipunyai oleh anak sejak usia dini. Apabila anak tidak mempunyai kekuatan tentu dia tidak dapat melakukan aktivitas bermain yang menggunakan fisik seperti berjalan, berlari, melompat, melempar, memanjat, bergantung,  dan mendorong.
b.      Koordinasi
Koordinasi adalah kemampuan untuk mempersatukan atau memisahkan dalam suatu tugas kerja yang kompleks, dengan ketentuan bahwa gerakan koordinasi meliputi kesempurnaan waktu antara otot dan sistem saraf. Anak dalam melakukan lemparan harus ada koordinasi seluruh anggota tubuh yang terlibat. Anak dikatakan baik koordinasi gerakannya apabila anak mampu bergerak dengan mudah dan lancar dalam rangkaian dan irama gerakannya terkontrol dengan baik.
c.       Kecepatan
Kecepatan adalah sebagai kemampuan berdasarkan kelentukan dalam satuan waktu tertentu. Dalam melakukan lari 4 detik, semakin jauh jarak yang ditempuh semakin tinggi kecepatan.
d.      Keseimbangan
Keseimbangan adalah kemampuan seseorang untuk mempertahankan tubuh dalam berbagai posisi. Keseimbangan dibagi dalam dua bentuk, yaitu: keseimbangan statis dan keseimbangan dinamis. Keseimbangan statis merujuk kepada menjaga keseimbangan tubuh ketika berdiri pada suatu tempat, keseimbangan dinamis adalah kemampuan untuk menjaga keseimbangan tubuh ketika berpindah dari suatu tempat ke tempat lain.
e.       Kelincahan
Kelincahan adalah kemampuan seseorang mengubah arah dan posisi tubuh dengan cepat dan tepat pada waktu bergerak pada satu titik ke titik lain dalam melakukan lari zig-zag. Semakin cepat waktu yang ditempuh maka semakin tinggi kelincahannya
3.      Fungsi Kemampuan Motorik
Rusli Lutan (2001: 45-47) menyatakan bahwa pengembangan keterampilan dasar pada siswa Sekolah Dasar ditekankan pada pengembangan dan pengayakan keterampilan geraknya. Semakin banyak perbendaharaan gerak dasarnya, semakin terampil anak melaksanakan keterampilan lainnya, seperti dalam olahraga atau dalam kehidupan sehari-hari, termasuk keterampilan di tempat mereka bekerja.
Muthohir dan Gusril (Ikhsan, 2005: 34) mengemukakan bahwa fungsi utama kemampuan gerak adalah untuk mengembangkan kesanggupan dan kemampuan setiap individu yang berguna untuk mempertinggi daya kerja. Dengan mempunyai kemampuan gerak yang baik, seseorang mempunyai landasan untuk menguasai tugas keterampilan gerak yang khusus. Unsur-unsur kemampuan gerak motorik akan semakin terlatih apabila siswa semakin banyak mengalami berbagai pengalaman aktivitas gerak yang bermacam-macam. Ingatan akan selalu menyimpan pengalaman yang akan dipergunakan untuk kesempatan yang lain, jika melakukan gerakan yang sama. Dengan banyaknya pengalaman gerak yang dilakukan siswa Sekolah Dasar akan menambah kematangan dalam melakukan aktivitas gerak motorik.
4.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Motorik
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik dan motorik seseorang menurut Endang Rini Sukamti (2007: 40-41) ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap laju perkembangan motorik seseorang, antara lain:
a.       Sifat dasar genetik, termasuk bentuk tubuh dan kecerdasan mempunyai pengaruh yang menonjol terhadap laju perkembangan motorik.
b.      Seandainya dalam awal kehidupan pasca lahir tidak ada hambatan kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, semakin aktif janin semakin cepat perkembangan motorik anak.
c.       Kondisi  pralahir yang menyenangkan, khususnya gizi makanan sang ibu, lebih mendorong perkembangan motorik yang lebih cepat pada masa pasca lahir, ketimbang kondisi pralahir yang tidak menyenangkan.
d.      Kelahiran yang sukar, khususnya apabila ada kerusakan pada otak akan memperlambat perkembangan motorik.
e.       Seandainya tidak ada gangguan lingkungan, maka kesehatan dan gizi yang baik pada awal kehidupan pasca lahir akan mempercepat perkembangan motorik.
f.       Anak yang IQ tinggi menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dibandingkan anak yang IQ-nya normal atau di bawah normal.
g.      Adanya rangsangan, dorongan, dan kesempatan untuk menggerakkan semua bagian tubuh akan mempercepat perkembangan motorik.
h.      Perlindungan yang berlebihan akan melumpuhkan kesiapan berkembangnya kemampuan motorik.
i.        Karena rangsangan dan dorongan yang lebih banyak dari orang tua, maka perkembangan motorik anak yang pertama cenderung lebih baik ketimbang perkembangan anak yang lahir kemudian.
j.        Kelahiran sebelum waktunya biasanya memperlambat perkembangan motorik. Hal ini dikarenakan tingkat perkembangan motorik pada waktu lahir berada di bawah tigkat perkembangan bayi yang lahir tepat waktunya.
k.      Cacat fisik, seperti kebutaan akan memperlambat perkembangan motorik.
l.        Dalam perkembangan motorik, perbedaan jenis kelamin, warna kulit dan sosial ekonomi lebih banyak disebabkan oleh perbedaan motivasi dan pelatihan ketimbang anak karena perbedaan bawaan.
C.    Kontribusi Sensori pada Kontrol Motorik
1.      Sumbangan Indera terhadap Keterampilan
Indera  manusia merupakan faktor penting dalam pembuatan gerak yang berorientasi pada keterampilan, baik untuk keterampilan-keterampilan sederhana maupun keterampilan tingkat tinggi. Fungsi dari indera tentu saja terutama berhubungan dengan sumbangannya terhadap keberhasilan gerak, sebab gerak sendiri merupakan hasil dari proses  pengolahan informasi yang diserap oleh indera manusia. Keberhasilan dalam keterampilan-keterampilan tingkat tinggi bergantung pada bagaimana pelaku mampu mendeteksi, menerima, serta memanfaatkan informasi yang bersifat inderawi. Buktinya, seringkali pemenang dari suatu lomba adalah orang atau tim yang memang telah mendeteksi kemampuan lawan, pola permainan lawan, serta kesiapan lawan. Demikian juga untuk olahraga-olahraga seperti senam dan lompat indah, pemain yang memenangkan kejuaraan dalam cabang ini adalah  pemain yang mampu menguasai gerakan tubuhnya setepat mungkin secara lebih baik. Sedangkan dalam cabang olahraga yang memerlukan kecepatan dan ketepatan, latihan yang dilakukan benar-benar harus diarahkan pada peningkatan kemampuan untuk mendeteksi serta memproses informasi inderawi.
2.      Sumber-Sumber Informasi Inderawi
Informasi untuk keterampilan timbul dari beberapa sumber dasar, walaupun bagian terbesar dari informasi tersebut datang dari lingkungan. Sumber informasi tersebut terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
a.       Informasi Exteroceptive
Kata awal extero berarti bahwa informasi yang diterima bersumber dari luar tubuh. Informasi yang paling umum dalam exteroceptive adalah yang berhubungan dengan mata (vision).  Vision  memberikan informasi tentang gerakan objek-objek dalam lingkungan, seperti jalur layangan bola, juga kecepatannya. Fungsi lain dari vision adalah mendeteksi gerakan sendiri dalam lingkungan, seperti jalur ke arah suatu benda atau target dan berapa waktu kira-kira akan akan tiba. Dalam konteks ini, vision memberikan dasar bagi antisipasi tetang sebuah kejadian yang akan datang. Fungsi lain dari vision adalah membantu dalam mendeteksi aspek spatial dan temporal dari gerakan  sendiri di dalam lingkungan, seperti ayunan raket, melangkah dan naik ke dalam kereta, melompati pagar dan lain-lain.
Informasi exteroceptive umum yang kedua adalah datang dari pendengaran atau audition. Meskipun keterlibatannya dalam keterampilan tidak sejelas vision, banyak kegiatan yang tergantung pada keterampilan auditory yang terkembangkan secara baik, seperti menggunakan suara anjungan dari kapal layar yang bergerak di air untuk memperkirakan kecepatan kapal. Audisi juga merupakan sumber penting dari informasi sensorik untuk orang-orang yang memiliki keterbatasan fungsi visual.
b.      Informasi Proprioceptive atau Kinestetik
Sumber informasi yang kedua adalah yang datang dari gerakan tubuh sendiri, itulah yang disebut proprioceptive. Kata awal proprio mengindikasikan informasi dari dalam tubuh, seperti posisi persendian, daya dalam otot-otot, orientasi dalam ruang (misalnya apakah terbalik atau tidak). Istilah proprioceptive ini sering juga disebut dengan istilah kinesthesis. Awalan kines berarti gerakan, dan  thesis berarti rasa. Jadi istilah ini menunjuk pada rasa gerakan dari persendian atau tegangan otot-otot yang memberikan data tentang aksi kita sendiri. Sumber informasi sensoris terutama penting dalam olahraga seperti senam dan lompat indah.
Beberapa reseptor penting menyediakan sistem neuromuskuler dengan informasi kinestetis. Vestibular aparatus dalam telinga bagian dalam telinga mendeteksi gerakan kepala dan sangat sensitif terhadap gravitasi. Informasi yang disediakan oleh struktur reseptor ini penting untuk postur dan keseimbangan.
Reseptor lain menyediakan informasi tentang anggota tubuh. Reseptor ini terletak dalam persendian dan di sekitar  kapsul sendi  (joint receptors) yang memberi tanda tentang posisi sendi, terutama pada jarak gerak sendi yang ekstrem. Kemudian di dalam pusat otot rangka, terdapat juga reseptor yang disebut kumparan otot (muscle spindles), dinamai demikian karena berbentuk kumparan, yang meregang jika otot berkonstraksi dan memberikan informasi tentang jarak konstraksi di samping perubahan posisi persendian. Lalu di dekat persimpangan antara otot dan tendon terdapat juga reseptor yang diketahui sebagai golgi tendon organs, yang memberi tanda tentang tingkat daya dalam bagian yang bermacam-macam dalam otot. Dalam wilayah kulit juga ditemukan cutaneous receptors. Cutaneous receptors termasuk beberapa macam detektor khusus untuk mengetahui tekanan, suhu, sentuhan. Reseptor ini terutama bertanggung jawab untuk memberikan informasi sentuhan.
Masing-masing reseptor ini memberikan lebih dari satu jenis informasi sensoris. Misalnya, muscle spindle memberikan informasi tentang posisi sendi, kecepatan otot, tegangan otot, dan orientasi anggota tubuh dalam hubungannya dengan gaya tarik bumi. Karenanya, tidak seperti vision dan audision yang menyajikan rasa khusus, kinestetis mencakup kombinasi input yang kompleks dari berbagai reseptor yang harus dipadukan oleh sistem syaraf pusat.

D.    Sistem Pengontrolan Loop Tertutup (Closed Loop)
Suatu cara yang penting untuk menggambarkan bagaimana informasi dari indera berfungsi dalam perilaku gerak adalah dengan menyamakannya dengan sistem kontrol closed loop. Loop diartikan sebagai cekungan atau putaran. Dengan demikian, dengan sistem pengontrol closed loop diartikan sebagai suatu sistem yang tidak terputus, tetapi melingkar lagi ke awal. Ini digambarkan seperti suatu sistem pengatur ruangan yang dilengkapi dengan alat pengontrolnya. Pengatur suhu akan mengembalikan suhu udara ke suhu yang diinginkan jika alat pengontrolnya mendeteksi bahwa suhu tersebut tidak lagi dalam kondisi yang diinginkan. Proses tersebut terus berjalan demikian, kecuali kalau alat pengontrolnya rusak. Dalam kaitan itu, pengontrol tersebut selalu memberikan feedback (umpan balik) kepada alat pengatur, sehingga membentuk mekanisme yang mengatur sistem pengontrolan itu. Mekanisme demikian di sebagian teori disebut juga teori cybernetic.
Proses closed loop bekerja juga dalam penampilan gerak manusia, seperti dalam menangkap bola. Informasi visual tentang tangan yang bergerak ke arah bola memberikan feedback. Perbedaan antara arah tangan dan arah yang diinginkan dianggap sebagai kesalahan. Karena pengontrol menemukan kesalahan tersebut maka segera dikirim informasi ke pelaksana gerak dalam bentuk feedback, sehingga selanjutnya kesalahan tersebut akan diperbaiki pada gerakan berikutnya. Hal itu dapat digambarkan sebagai berikut:



NEUROLOGICAL CONSIDERATIONS FOR MOVEMENT (SISTEM SARAF DALAM GERAK MANUSIA)


NEUROLOGICAL CONSIDERATIONS FOR MOVEMENT
(SISTEM SARAF DALAM GERAK MANUSIA)

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Biomekanika
Dosen pengampu: Prof. Dr. Suharjana, M.Kes.










 





Disusun oleh:
Tommy Farid Rosyadhi
NIM. 13711251030
IKOR B








PROGRAM STUDI ILMU KEOLAHRAGAAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Manusia diciptakan dengan segala kesempurnaan. Kehidupan manusia (gerak manusia) dikendalikan oleh sistem saraf yang terdiri dari berjuta-juta sel saraf atau dendrit. Sistem saraf merupakan sistem koordinasi atau sistem kontrol yang bertugas menerima rangsangan dan menyalurkan ke seluruh bagian tubuh sekaligus memberikan tanggapan terhadap rangsangan tersebut (jaringan komunikasi dalam tubuh). Sistem saraf memungkinkan makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam.
Sistem saraf bertanggung jawab untuk mengidentifikasi otot yang akan diaktifkan untuk sebuah gerakan tertentu dan menghasilkan stimulus untuk mengembangkan tingkat kekuatan yang akan diperlukan otot. Sistem saraf ini mengkoordinasikan, mengatur, dan mengendalikan interaksi antara seorang individu dengan lingkungan sekitarnya. Sistem tubuh yang penting ini juga mengatur aktivitas sebagian besar sistem tubuh lainnya. Tubuh mampu berfungsi sebagai satu kesatuan yang harmonis karena pengaturan hubungan saraf diantara berbagai sistem. Fenomena mengenai kesadaran, daya pikir, bahasa, sensasi, dan gerakan semuanya berasal dari sistem ini. Kemampuan untuk memahami, belajar, dan merespon terhadap rangsangan merupakan hasil dari integrasi fungsi sistem saraf yang memuncak dalam kepribadian dan perilaku seseorang.
Sistem saraf sangat berperan dalam iritabilitas tubuh. Iritabilitas memungkinkan makhluk hidup dapat menyesuaikan diri dan menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya. Iritabilitas merupakan kemampuan menanggapi rangsangan. Tubuh manusia terdiri atas organ-organ tubuh yang masing-masing mempunyai fungsi tertentu. Agar organ-organ tubuh dapat bekerja sama dengan baik, diperlukan adanya koordinasi (pengaturan). Pada manusia koordinasi dilakukan oleh sistem saraf, sistem indra, sistem hormon, dan otot.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.      Apa yang dimaksud dengan sistem saraf?
2.      Apa fungsi dari sistem saraf?
3.      Apa jenis-jenis atau klasifikasi sel saraf?
4.      Bagaimana cara kerja sistem saraf?
C.    Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui kajian tentang sistem saraf dan cara kerja sistem saraf dalam gerak manusia.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sistem Saraf
Sistem saraf merupakan sistem koordinasi atau sistem kontrol yang bertugas menerima rangsangan dan menyalurkan ke seluruh bagian tubuh sekaligus memberikan tanggapan terhadap rangsangan tersebut (jaringan komunikasi dalam tubuh). Sistem saraf memungkinkan makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam. Sistem saraf (nervous system) merupakan sistem jaringan komunikasi yang menghubungkan setiap bagian dari tubuh kita serta berfungsi dalam proses menangapi rangsangan dari luar serta mengendalikan otot-otot kita.
Sel saraf atau neuron adalah satuan anatomis dan fungsional independen dengan ciri morfologis majemuk. Sel saraf berperan pada penerimaan, penghantaran, dan pemrosesan rangsang; pencetus aktivitas sel tertentu; serta pelepas neotrasmiter dan molekul-molekul penyampai lainnya. Sel saraf mengirimkan pesan (impuls) yang berupa rangsang atau tanggapan. Sel saraf memiliki bagian-bagian sel yang berbeda dengan tipe sel lainnya. Berikut bagian-bagian sel saraf beserta fungsinya dalam menghantarkan impuls (rangsangan) sebagai unit fungsional sistem saraf:
1.      Dendrite merupakan penjuluran pendek yang keluar dari badan sel. Dendrite berfungsi untuk menghantarkan impuls dari luar sel neuron ke dalam badan sel.
2.      Badan sel merupakan bagian neuron yang banyak mengandung cairan sel (sitoplasma) dan terdapatnya inti sel (nucleus). Badan sel berfungsi sebagai penerima impuls dari dendrite dan menghantarkannya menuju axon dengan perantara sitoplasma.
3.      Sitoplasma merupakan cairan pengisi badan sel. Sitoplasma berfungsi untuk mempercepat penyampaian atau penghantaran impuls dalam sel.
4.      Nucleus merupakan bagian terpenting dari sel. Bentuknya akan menyesuaikan bentuk sel. Nucleus berfungsi untuk mengatur seluruh kegiatan sel dan pembelahan sel.
5.      Axon atau neurit merupakan penjuluran yang panjang yang keluar dari badan sel. Axon berfungsi untuk menerima impuls dari badan sel dan menghantarkannya ke percabangan axon.
6.      Percabangan axon merupakan bagian dari axon yang bercabang-cabang dan berfungsi menerima impuls dari axon.
7.      Selubung neurolema atau neurilema merupakan selaput tipis yang berada paling luar dari axon. Selubung neurolema berfungsi untuk melindungi axon serta memberikan nutrisi pada axon.
8.      Selubung myelin merupakan selaput tipis yang berhubungan langsung dengan axon dan terletak setelah selubung neurilema. Selubung myelin berfungsi untuk melindungi axon dan memberikan nutrisi pada axon.
9.      Sel schwann merupakan sel-sel yang terdapat di dalam selubung myelin. Sel schwann berfungsi untuk memperbaiki sel axon yang rusak.
10.  Nodus ranvier merupakan celah di antara axon yang tidak tertutup oleh selubung neurilema. Nodus ranvier berfungsi untuk mempercepat penyampaian impuls ke neuron.
Sel saraf berkomunikasi dengan cepat antar kelompok-kelompok sel yang diatur secara serial, sehingga memungkinkan penghantaran informasi yang cepat melewati jarak yang jauh. Sel saraf pada manusia dapat kita kelompokkan berdasarkan struktur dan fungsinya. Sel saraf atau neuron berdasarkan strukturnya dibagi menjadi tiga tipe, yaitu neuron multipolar, neuron bipolar, dan neuron unipolar. Neuron multipolar adalah tipe neuron yang memiliki banyak dendrite dan satu axon. Neuron bipolar memiliki hanya satu dendrite dan satu axon, sedangkan neuron unipolar tidak memiliki dendrite dan proses penghantaran impuls dilakukan oleh satu axon.
Tipe Saraf
Sel saraf atau neuron berdasarkan struktur dan fungsinya dibagi menjadi tiga tipe, yaitu sel saraf sensorik, sel saraf motorik, dan sel saraf intermediet (asosiasi).

1.       Sel Saraf Sensorik
Fungsi sel saraf sensorik adalah menghantar impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak (ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis). Ujung axon dari saraf sensori berhubungan dengan saraf asosiasi (intermediet). Sel saraf sensorik disebut juga dengan sel saraf indra karena berhubungan dengan alat indra.
2.       Sel Saraf Motorik
Fungsi sel saraf motorik adalah mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke otot atau kelenjar yang hasilnya berupa tanggapan tubuh terhadap rangsangan. Badan sel saraf motor berada di sistem saraf pusat. Dendritnya sangat pendek berhubungan dengan axon saraf asosiasi, sedangkan axon-nya dapat sangat panjang. Sel saraf motorik disebut juga dengan sel saraf penggerak, hal ini dikarena berhubungan erat dengan otot sebagai alat gerak.
3.       Sel Saraf Asosiasi atau Intermediet
Sel saraf intermediet disebut juga sel saraf asosiasi. Sel ini dapat ditemukan di dalam sistem saraf pusat dan berfungsi menghubungkan sel saraf motor dengan sel saraf sensori atau berhubungan dengan sel saraf lainnya yang ada di dalam sistem saraf pusat. Sel saraf intermediet menerima impuls dari reseptor sensori atau sel saraf asosiasi lainnya. Kelompok-kelompok serabut saraf, axon, dan dendrit bergabung dalam satu selubung dan membentuk urat saraf. Sedangkan badan sel saraf berkumpul membentuk ganglion atau simpul saraf.
B.     Mekanisme Kerja Sistem Saraf
Impuls berjalan dari korteks serebri menuju sumsum tulang belakang, melalui jalur-jalur menurun yang disebut traktus serebro spinalis atau traktus piramidalis. Neuron pada jalur saraf motorik terbagi menjadi neuron motorik atas dan neuron motorik bawah. Neuron motorik atas memiliki badan-badan sel dalam daerah pre-rolandi pada korteks serebri dan serabut-serabutnya berpadu erat pada saat mereka melintas antara nukleus-kaudatus dan lentiformis dalam kapsula interna. Neuron motorik bawah berawal di dalam badan sel dalam kornu anterior sumsum tulang belakang dan selanjutnya keluar serta masuk melalui akar anterior saraf spinalis. Neuron tersebut didistribusikan ke periferi dan berakhir di dalam organ motorik misalnya otot.
Impuls saraf sensorik bergerak melintasi traktus menaik yang terdiri dari tiga neuron. Neuron yang pertama terletak paling tepi. Neuron ini memiliki badan sel dalam ganglion sensorik pada akar posterior saraf spinalis. Selanjutnya dendron yang merupakan sebuah cabangnya bergerak menuju periferi dan berakhir pada satu organ sensorik, misalnya kulit. Sementara axon yang merupakan cabangnya yang lain bergerak masuk ke dalam sumsum tulang belakang, kemudian naik menuju kolumna posterior dan berakhir pada sekeliling sebuah nukleus dalam medulla oblongata. Neuron yang kedua timbul dalam nucleus tersebut. Neuron melintasi garis tengah dalam cara yang sama seperti jalur motorik desendens untuk membentuk dekukasio sensorik, naik melalui pons dan dien salafon guna mencapai thalamus. Neuron yang ketiga bermula dalam thalamus dan bergerak melalui kapsula interna untuk mencapai daerah sensorik korteks serebri. Traktus menaik ini menghasilkan impuls sentuhan, rasa sakit, dan suhu.
C.    Sistem Saraf Pusat
Sistem saraf pusat meliputi otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang (medula spinalis). Kedua sistem saraf pusat ini merupakan organ yang sangat lunak dengan fungsi yang sangat penting dan perlu perlindungan. Selain dilindungi oleh tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, otak juga dilindungi tiga lapisan selaput meninges. Apabila membran ini terkena infeksi, maka akan terjadi radang yang disebut meningitis. Ketiga lapisan membran meninges dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Durameter merupakan selaput yang kuat dan bersatu dengan tengkorak.
2.      Araknoid bentuknya seperti sarang labah-labah. Di dalamnya terdapat cairan serebrospinalis semacam cairan limfa yang mengisi sela-sela membran araknoid. Selaput araknoid berfungsi sebagai bantalan untuk melindungi otak dari bahaya kerusakan mekanik.
3.      Piameter merupakan lapisan yang dipenuhi dengan pembuluh darah dan sangat dekat dengan permukaan otak. Lapisan ini berfungsi untuk memberi oksigen dan nutrisi serta mengangkut bahan sisa metabolisme.
Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai tiga materi esensial yaitu:
1.      Badan sel yang membentuk bagian materi kelabu (substansi grissea)
2.      Serabut saraf yang membentuk bagian materi putih (substansi alba)
3.      Sel-sel neuroglia merupakan jaringan ikat yang terletak di antara sel-sel saraf di dalam sistem saraf pusat.
Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai materi sama, tetapi susunannya berbeda. Otak disusun oleh materi kelabu yang terletak di bagian luar atau kulitnya (korteks) dan bagian putih terletak di tengah. Pada sumsum tulang belakang bagian tengah berupa materi kelabu berbentuk kupu-kupu, sedangkan bagian korteks berupa materi putih.
Otak mempunyai lima bagian utama, yaitu: otak besar (serebrum), otak tengah (mesensefalon), otak kecil (serebelum), sumsum sambung (medulla oblongata), dan jembatan varol.
1.      Otak Besar (Serebrum)
Otak besar mempunyai fungsi dalam pengaturan semua aktifitas mental yang berkaitan dengan kepandaian (intelegensi), ingatan (memori), kesadaran, dan pertimbangan. Otak besar merupakan sumber dari semua kegiatan atau gerakan sadar atau sesuai dengan kehendak. Pada bagian korteks serebrum yang berwarna kelabu terdapat bagian penerima rangsang (area sensor) yang terletak di sebelah belakang area motor yang berfungsi mengatur gerakan sadar atau merespon rangsangan. Selain itu terdapat area asosiasi yang menghubungkan area motor dan sensorik. Area ini berperan dalam proses belajar, menyimpan ingatan, membuat kesimpulan, dan belajar berbagai bahasa. Di sekitar kedua area tersebut merupakan bagian yang mengatur kegiatan psikologi yang lebih tinggi. Misalnya bagian depan merupakan pusat proses berfikir (mengingat, analisis, berbicara, dan kreativitas) dan emosi. Pusat penglihatan terdapat di bagian belakang.
2.      Otak Tengah (Mesensefalon)
Otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan varol. Di depan otak tengah terdapat thalamus dan kelenjar hipofisis yang mengatur kerja kelenjar-kelenjar endokrin. Bagian atas (dorsal) otak tengah merupakan lobus optikus yang mengatur refleks mata seperti penyempitan pupil mata, dan juga merupakan pusat pendengaran.
3.      Otak Kecil (Serebelum)
Serebelum mempunyai fungsi utama dalam koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau berbahaya maka gerakan sadar yang normal tidak mungkin dilaksanakan.
4.      Sumsum Sambung (Medulla Oblongata)
Sumsum sambung berfungsi menghantar impuls yang datang dari medula spinalis menuju ke otak. Sumsum sambung juga mempengaruhi refleks fisiologi seperti detak jantung, tekanan darah, volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan serta sekresi kelenjar pencernaan. Sumsum sambung mengatur gerak refleks yang lain seperti bersin, batuk, dan berkedip.



5.      Jembatan Varol (Pons Varoli)
Jembatan varol berisi serabut saraf yang menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar dan sumsum tulang belakang.
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang tampak bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam berbentuk kupu-kupu dan berwarna kelabu. Pada penampang melintang sumsum tulang belakang ada bagian seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor dihantar masuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor keluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan menerima impuls dari sel saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf motor.
Pada bagian putih terdapat serabut saraf asosiasi. Kumpulan serabut saraf membentuk saraf (urat saraf). Urat saraf yang membawa impuls ke otak merupakan saluran asenden dan yang membawa impuls yang berupa perintah dari otak merupakan saluran desenden.
D.    Sistem Saraf Tepi
Susunan saraf tepi terdiri atas serabut saraf otak dan serabut saraf sumsum tulang belakang (spinal). Serabut saraf sumsum dari otak, keluar dari otak sedangkan serabut saraf sumsum tulang belakang keluar dari sela-sela ruas tulang belakang. Tiap pasang serabut saraf otak akan menuju ke alat tubuh atau otot, misalnya ke hidung, mata, dan telinga. Sistem saraf tepi terdiri atas serabut saraf sensorik dan motorik yang membawa impuls saraf menuju ke dan dari sistem saraf pusat. Sistem saraf tepi terdiri atas sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan, dan sekresi keringat.
  1. Sistem Saraf Sadar
Sistem saraf sadar disusun oleh saraf otak (saraf kranial) yaitu saraf-saraf yang keluar dari otak dan saraf sumsum tulang belakang yaitu saraf-saraf yang keluar dari sumsum tulang belakang.
Saraf otak ada 12 pasang yang terdiri dari:
a.       Tiga pasang saraf sensori
b.       Lima pasang saraf motor
c.       Empat pasang saraf gabungan sensori dan motor
Saraf otak dikhususkan untuk daerah kepala dan leher, kecuali nervus vagus yang melewati leher ke bawah sampai daerah toraks dan rongga perut. Nervus vagus membentuk bagian saraf otonom. Nervus vagus disebut saraf pengembara karena daerah jangkauannya sangat luas dan sekaligus merupakan saraf otak yang paling penting.
Saraf sumsum tulang belakang berjumlah 31 pasang saraf gabungan. Berdasarkan asalnya, saraf sumsum tulang belakang dibedakan atas 8 pasang saraf leher, 12 pasang saraf punggung, 5 pasang saraf pinggang, 5 pasang saraf pinggul, dan 1 pasang saraf ekor.
Beberapa urat saraf bersatu membentuk jaringan urat saraf yang disebut pleksus. Ada 3 buah pleksus yaitu sebagai berikut:
a.       Pleksus cervicalis merupakan gabungan urat saraf leher yang mempengaruhi bagian leher, bahu, dan diafragma.
b.      Pleksus brachialis mempengaruhi bagian tangan.
c.       Pleksus jumbo sakralis yang mempengaruhi bagian pinggul dan kaki.
  1. Saraf Otonom
Sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari otak maupun dari sumsum tulang belakang dan menuju organ yang bersangkutan. Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan masing-masing jalur membentuk sinapsis yang kompleks dan juga membentuk ganglion. Urat saraf yang terdapat pada pangkal ganglion disebut urat saraf pra ganglion dan yang berada pada ujung ganglion disebut urat saraf post ganglion.
Sistem saraf otonom dapat dibagi atas sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. Perbedaan struktur antara saraf simpatik dan parasimpatik terletak pada posisi ganglion. Saraf simpatik mempunyai ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang menempel pada sumsum tulang belakang sehingga mempunyai urat pra ganglion pendek. Sedangkan saraf parasimpatik mempunyai urat pra ganglion yang panjang karena ganglion menempel pada organ yang dibantu.
Fungsi sistem saraf simpatik dan parasimpatik selalu berlawanan (antagonis). Sistem saraf parasimpatik terdiri dari keseluruhan nervus vagus bersama cabang-cabangnya ditambah dengan beberapa saraf otak lain dan saraf sumsum sambung.
Tabel Fungsi Saraf Otonom
Parasimpatik
Simpatik
mengecilkan pupil
memperbesar pupil
menstimulasi aliran ludah
menghambat aliran ludah
memperlambat denyut jantung
mempercepat denyut jantung
membesarkan bronkus
mengecilkan bronkus
menstimulasi sekresi kelenjar pencernaan
menghambat sekresi kelenjar pencernaan
mengerutkan kantung kemih
menghambat kontraksi kandung kemih

E.     Saraf Sensorik
Fungsi sel saraf sensorik adalah menghantar impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak (ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis). Ujung axon dari saraf sensori berhubungan dengan saraf asosiasi (intermediet). Sel saraf sensorik disebut juga dengan sel saraf indra karena berhubungan dengan alat indra.
Gerak dapat dilakukan secara sadar (gerak biasa) dan secara tidak sadar (gerak reflek). Perbedaan dari kedua macam gerak tersebut adalah berkaitan dengan jalannya impuls saraf yang melewati sistem saraf pusat, yaitu jika impuls melewati otak maka gerak yang dilakukan sebagai hasil respon dari otak dinamakan gerak sadar, sedangkan jika impuls tidak melewati otak tetapi sumsum tulang belakang, maka gerak yang dihasilkan sebagai respon dari sumsum tulang belakang dinamakan gerak reflek. Adapun macam gerak refleks sebagai berikut:
1.       Refleks Spinal (sumsum tulang belakang)
Bila dipisahkan dari bagian otak lainnya, medspin mampu memediasi sejumlah refleks, somatik dan autonomik. Dasar morfologis refleks saraf umumnya disebut arkus refleks, yang dalam bentuknya yang paling sederhana tersusun atas: (1) reseptor, yang bereaksi terhadap stimulus; (2) penghantar eferen, yang membawa impuls ke pusat refleks (penghantar aferen adalah serabut sensorik aferen yang kebanyakan mempunyai badan sel di ganglion spinal atau kranial); (3) pusat refleks merupakan tempat pesan aferen dari reseptor berkumpul dengan impuls aferen dari reseptor lainnya, atau dengan aferen dari sumber lain, yang mungkin mengubah pengaruh impuls aferen dari reseptor; (4) penghantar eferen, yaitu serabut saraf yang menuju ke efektor; (5) efektor merupakan bagian yang menghasilkan reaksi (otot dan kelenjar atau vasa darah).
2.       Refleks Cerebellar (melibatkan otak kecil)
Otak kecil terletak di bawah bagian belakang otak belakang yang terdiri atas dua belahan yang berliku-liku sangat dalam. Otak kecil berperan sebagai pusat keseimbangan, koordinasi kegiatan otak, koordinasi kerja otot dan rangka. Medula oblongata membentuk bagian bawah batang otak yang berfungsi sebagai pusat pengatur refleks fisiologis (pernapasan, detak jantung, tekanan darah, suhu tubuh, gerak alat pencernaan, gerak refleks seperti batuk, bersin, dan mata berkedip).
3.       Refleks Superficial
Refleks superficial atau refleks plantar dan abdominal diawali oleh stimulasi kutan. Refleks ini membutuhkan lengkung refleks korda dan jalur kortikospinal. Contoh dari refleks superficial adalah:
a.       Refleks dinding perut: goresan dinding perut daerah epigastrik, supra umbilikal, umbilikal, intra umbilikal dari lateral ke medial. Respon berupa kontraksi dinding perut
b.       Refleks cremaster: goresan pada kulit paha sebelah medial dari atas ke bawah. Respon berupa elevasi testes ipsilateral.
c.       Refleks gluteal: goresan atau tusukan pada daerah gluteal. Respon berupa gerakan reflektorik otot gluteal ipsilateral
4.       Refleks Visceral
Refleks visceral ini sering disebut juga refleks otonom karena sering melibatkan organ internal tubuh. Refleks visceral (urinasi dan defekasi) merupakan refleks spinal yang bisa terjadi tanpa input dari otak. Refleks spinal dimodulasi oleh excitatory atau inhibitory signal dari otak yang dibawa oleh jaras descending dari pusat otak yang lebih tinggi. Urinasi dapat diinisiasi secara sadar dengan kesadaran atau bisa juga dihambat oleh stres dan emosi.
Refleks visceral lain diintegrasikan di otak (hipotalamus, thalamus, dan batang otak). Daerah ini berisi pusat koordinasi yang dibutuhkan untuk menjaga homeostatis seperti detak jantung, tekanan darah, nafas, makan, keseimbangan air, dan menjaga temperatur. Di sini juga ada pusat refleks seperti salivating, muntah, bersin, batuk, menelan, dan tersendak.
F.     Reseptor Sensorik
Reseptor sensorik merupakan struktur saraf yang terletak di seluruh jaringan tubuh dan menyediakan informasi mengenai keadaan jaringan bagi CNS melalui neuron afferen. Reseptor spesifik menyediakan informasi yang spesifik pula seperti:
  1. Nosiseptor berhubungan dengan rasa sakit dan ketidaknyamanan
  2. Propioseptor berhubungan dengan posisi dan pergerakan mandibula
  3. Interoseptor berhubungan dengan keadaan organ dalam
Semua input yang diterima reseptor menjadikan korteks dan batang otak mengkoordinasi kerja otot untuk merespon dengan tepat. Tiga tipe utama reseptor sensorik pada sistem mastikasi (pengunyahan):
  1. Muscle Spindle
 Muscle spindle adalah organ deria yang terdapat dalam struktur otot tubuh manusia. Muscle spindle adalah sejenis proprioceptor yang merupakan deria dalam otot yang mengenal pasti lokasi bahagian badan manusia. Muscle spindle akan memantau keadaan otot yang semakin memanjang dan apabila maklumat mengenai keadaan otot disalurkan ke otak, maka akan membuatkan seseorang itu merasakan seperti ada suatu ruang di tubuh mereka. Muscle spindle secara morfologis dan fungsional paling banyak diketahui dan organisasinya paling kompleks. Muscle spindle terdapat di semua otot alat lokomotor dan pada beberapa otot jang diinervasi saraf kranial, misalnya otot larynx, otot mastikasi, lidah, dan otot ekstraokular. Jumlah muscle spindle sangat bervariasi pada berbagai otot. Otot yang dipakai untuk gerak yang halus mempunyai lebih banyak muscle spindle dibandingkan dengan otot yang digunakan untuk gerak kasar.
  1. Tendon Golgi
Tendon adalah struktur yang menyambung otot pada tulang. Tendon golgi dihasilkan oleh kolagen dan juga mengandung sel saraf. Struktur ini juga disebut sebagai organ tendon atau organ neurotendinous.
  1. Korpus Pacini
Organ berbentuk oval yang terbuat dari lamela konsentrik jaringan ikat dan tersebar secara luas. Korpus pacini lebih banyak berlokasi di sendi, maka korpus pacini dipertimbangkan merespon persepsi pergerakan dan tekanan yang keras, bukan sentuhan yang ringan. Korpus pacini ditemukan di tendon, sendi, periosteum, insersi tendon, dan fascia. Tekanan yang mengenai jaringan dan merusak organ akan menstimulasi serat saraf.



BAB III
PENUTUP

Sistem saraf merupakan sistem koordinasi atau sistem kontrol yang bertugas menerima rangsangan dan menyalurkan ke seluruh bagian tubuh sekaligus memberikan tanggapan terhadap rangsangan tersebut (jaringan komunikasi dalam tubuh). Sistem saraf memungkinkan makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam.
Berdasarkan struktur dan fungsinya, sel saraf dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu sel saraf sensori, sel saraf motor, dan sel saraf intermediet (asosiasi). Berdasarkan macamnya, sistem saraf itu meliputi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat meliputi otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang (medula spinalis). Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang sangat penting maka perlu perlindungan. Susunan saraf tepi terdiri atas serabut saraf otak dan serabut saraf sumsum tulang belakang (spinal). Serabut saraf sumsum dari otak, keluar dari otak sedangkan serabut saraf sumsum tulang belakang keluar dari sela-sela ruas tulang belakang.


DAFTAR PUSTAKA

Hamill, J and Knuzen, K. 2009. Biomechanical Basis of Human Movement. Philadelpha: Lippicott Williams.
Pack, P. E. 2001. Biology 2nd Edition Cliffs. New York: Hungry Minds.
Rae-Dupree, J. and Pat, D. 2007. Anatomy and Physiology for Dummies. Indiana: Wiley Publishing.