Powered By Blogger

Minggu, 11 Januari 2015

Closed Loop Theory


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Manusia tidak dapat mempertahankan hidupnya jika manusia tidak tahu adanya bahaya yang mengancam atau menimpa dirinya. Adanya bahaya dapat diketahui dengan jalan melihat, mendengar, dan mencium. Inilah yang disebut sebagai sistem sensorik. Sistem ini menerima ribuan informasi kecil dari berbagai organ sensoris, kemudian mengintegrasikan untuk menentukan reaksi yang harus dilakukan tubuh. Sebagian terbesar kegiatan sistem saraf  berasal dari pengalaman sensoris dari reseptor sensoris, baik berupa reseptor visual, reseptor auditorius, reseptor raba di permukaan tubuh, atau jenis reseptor lain. Pengalaman sensoris ini dapat menyebabkan suatu reaksi segera, atau kenangannya dapat disimpan di dalam otak dan dapat membantu menentukan reaksi tubuh di masa yang akan datang.
Proses awal dari pengamatan disebut dengan perhatian, sedangkan proses akhir disebut persepsi yang menyebabkan kita mempunyai pengertian tentang situasi sekarang atas dasar pengalaman yang lalu. Persepsi merupakan bentuk pengalaman yang belum disadari sebelumnya sehingga individu belum mampu membedakan dan melakukan pemisahan apa yang dihayati. Apabila pengalaman tersebut telah disadari  sehingga individu sudah mampu membedakan dan melakukan pemisahan antara  subjek dengan objek, maka hal tersebut disebut apersepsi. Apersepsi mengutamakan kualitas objek dalam pengamatan.
Usia dini merupakan usia pada masa keemasan seorang anak. Pada masa ini segala potensi pada usia ini harus dikembangkan secara menyeluruh dari segi kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan fisik motorik. Sehubungan dengan potensinya dalam perkembangan fisik motorik, anak usia dini memiliki energi yang tinggi. Energi ini dibutuhkan untuk melakukan berbagai kegiatan yang diperlukan dalam meningkatkan keterampilan fisik, baik yang berkaitan dengan peningkatan keterampilan motorik kasar maupun motorik halus. Kegiatan fisik dan pelepasan energi dalam jumlah besar merupakan karakteristik aktivitas anak pada masa ini. Hal itu disebabkan oleh energi yang dimiliki anak dalam jumlah yang besar tersebut memerlukan penyaluran melalui berbagai aktivitas fisik, baik kegiatan fisik yang berkaitan dengan gerakan motorik kasar maupun gerakan motorik halus. Pada bahan ajar ini akan disajikan tentang pengertian perkembangan motorik, prinsip-prinsip perkembangan motorik, kategori fungsi keterampilan motorik.
Materi yang dituangkan bahan ajar ini diharapkan dapat dijadikan dasar pegangan bagi pendidik, guru serta lingkungan terkait yang melibatkan peserta didik pada anak usia dini guna mengembangkan keterampilan motorik dan kontrol gerak sehingga anak dapat menyelesaikan tugas motoriknya dengan baik. Hal lain juga diharapkan anak dapat menampilkan tugas motorik yang diberikan dengan tingkat keberhasilan tertentu tidak hanya bagi anak tetapi juga untuk pendidik, guru dan orang tua nantinya.


B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian proses sensoris pada manusia?
2.      Apa pengertian kontrol gerak atau motorik?
3.      Apa pengertian closed loop theory?
4.      Bagaimana kontribusi closed loop theory pada gerak motorik?
5.      Bagaimana kontribusi closed loop theory pada gerak motorik pada penjas?
C.    Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk:
1.      Untuk mengetahui pengertian proses sensoris pada manusia.
2.      Untuk mengetahui pengertian closed loop theory.
3.      Untuk mengetahui kontribusi closed loop theory pada gerak motorik.
4.      Untuk mengetahui kontribusi closed loop theory pada gerak motorik pada penjas.
D.    Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan serta pengetahuan tentang kontribusi closed loop theory pada gerak motorik. Makalah ini juga dapat menjadi referensi tentang gerak motorik.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sensori
1.      Pengertian Proses Sensori
Proses sensorik adalah kemampuan untuk memproses atau mengorganisasikan input sensorik yang diterima. Biasanya proses ini terjadi secara otomatis, misalnya ketika mendengar suara  kicauan  burung,  otak  langsung  menterjemahkan  sebagai  bahasa  atau  suara  binatang. Secara umum proses sensorik juga dapat diartikan sebagai proses masuknya rangsang melalui alat indera ke otak (serebral) kemudian kembali melalui saraf motoris dan berakhir dengan perbuatan.
Proses sensoris disebut juga pengamatan, yaitu gejala mengenal  benda-benda  di sekitar  dengan mempergunakan alat indera. Pengamatan  dengan anggapan atau respon memiliki perbedaan. Pengamatan terjadi pada saat stimulus atau rangsangan mengenai indera dan menghasilkan kesadaran dan pikiran. Respon yaitu proses terjadinya kesan dari pikiran setelah stimulus tidak ada.
Proses awal dari pengamatan disebut dengan perhatian, sedangkan proses akhir disebut persepsi yang menyebabkan seseorang mempunyai pengertian tentang situasi sekarang atas dasar pengalaman yang lalu. Persepsi merupakan bentuk pengalaman yang belum disadari sebelumnya, sehingga individu belum mampu membedakan dan melakukan pemisahan apa yang dihayati. Apabila pengalaman tersebut telah disadari  sehingga individu sudah mampu membedakan dan melakukan pemisahan antara  subjek dengan objek. Hal tersebut disebut dengan apersepsi. Apersepsi merupakan yang mengutamakan pengamatan pada kualitas objek dan bukan kuantitas  objek.  Secara  psikolog perbedaan benda  yang diamati  bersifat  kualitatif dengan tidak mengabaikan proses fisiologi secara psikologi sikap seseorang dalam situasi itulah yang akan memberi arti.
2.      Macam-Macam Sensori pada Manusia
Ada lima macam alat indera pada tubuh manusia yaitu, indera penglihatan, indera penciuman, indera peraba, indera pendengaran, indera pengecap. Alat indera berfungsi untuk mensensor keadaan diluar, apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dicium, apa yang dirasakan, apa yang didengar dapat mempengaruhi perilaku keadaan sesesorang.
a.       Indera Penglihat
Mekanisme atau cara kerja indera penglihat (mata) adalah jika suatu benda terkena cahaya, benda akan memantulkan berkas-berkas cahaya tersebut. Pantulan cahaya tersebut masuk melalui lensa mata serta bagian-bagian lainnya menuju ke retina. Pada mata yang normal, bayangan benda akan jatuh tepat di bintik kuning pada retina. Rangsangan cahaya yang diterima oleh retina tersebut selanjutnya akan diteruskan oleh urat saraf penglihatan ke pusat penglihatan di otak untuk diinterpretasikan atau diterjemahkan. Akhirnya, dapat melihat benda tersebut. Mata normal (emetrop) merupakan mata yang dapat memfokuskan cahaya yang masuk tepat pada bintik kuning. Mata normal dapat melihat benda yang jauh maupun yang dekat. Jarak benda terjauh yang masih dapat dilihat dengan jelas oleh mata disebut titik jauh. Jarak benda terdekat yang masih dapat dilihat dengan jelas oleh mata disebut titik dekat. Titik dekat pada anak-anak umumnya masih dekat. Makin tua titik dekatnya umumnya makin jauh.
b.      Indera Pembau (Pencium)
Indera pembau pada tubuh kita berupa hidung. Di dalam rongga hidung bagian atas terdapat serabut-serabut saraf pembau dengan sel-sel pembau di ujungnya. Serabut-serabut saraf itu bergabung menjadi urat saraf pembau yang menuju pusat pembau di otak. Sel-sel pembau mempunyai rambut-rambut halus di ujungnya dan diliputi oleh selaput lendir yang berfungsi sebagai pelembap. Sel-sel pembau peka terhadap zat-zat kimia dalam udara (berupa gas atau uap). Saat tubuh terserang flu biasanya disertai dengan pilek. Pilek menyebabkan saluran pernapasan tersumbat, terutama pada bagian hidung. Saat pilek, hidung tidak peka terhadap bau (aroma) tertentu dan nafsu makan berkurang karena lidah tidak peka terhadap rasa.
Pada saat menarik napas, udara masuk ke dalam rongga hidung. Gas memasuki rongga hidung bercampur dengan lendir, kemudian menstimulasi ujung-ujung saraf. Impuls ini diteruskan ke saraf pembau di pusat saraf, dan akhirnya diinterpretasikan sebagai bau. Indera pembau (pencium) ini bersangkutan dengan indera pengecap. Jika terjadi gangguan pada indera pembau, tidak dapat mengecap dengan baik.
c.       Indera Peraba (Kulit)
Indera peraba pada tubuh manusia adalah kulit. Di kulit terdapat beberapa organ penginderaan khusus disebut reseptor. Reseptor merupakan percabangan akhir dendrit dari neuron sensorik. Beberapa reseptor tersusun atas beberapa dendrit dan ada yang mempunyai sel khusus. Tiap reseptor hanya cocok untuk jenis rangsang tertentu saja. Jika reseptor dirangsang, terjadi impuls sepanjang dendrit yang diteruskan ke sistem saraf pusat. Ada lima macam reseptor pada kulit, yaitu reseptor yang khusus untuk menanggapi rangsang yang berupa sentuhan, tekanan, sakit, panas, atau dingin. Sebagai contoh, reseptor rasa sakit merupakan reseptor dengan dendrit yang gundul, terdapat di seluruh permukaan kulit. Jika rangsang cukup kuat, misalnya rangsang mekanik, temperatur, listrik atau kimiawi, maka reseptor ini akan bereaksi. Sensasi rasa sakit yang timbul merupakan suatu upaya untuk proteksi (melindungi diri). Hal ini merupakan sinyal-sinyal (pertanda) bahwa ada ancaman bagi tubuh yang dapat menyebabkan luka-luka.
d.      Indera Pendengar (Telinga)
Indera pendengar bekerja dengan mekanisme dari gelombang suara yang akan masuk ke telinga bagian luar melalui saluran pendengaran dan akhirnya sampai pada membran timpani. Gelombang suara ini menggetarkan membran dan tulang martil. Selanjutnya tulang landasan dan tulang sangguardi ikut bergetar. Akhirnya tingkap bundar ikut bergetar juga. Getaran ini akan menggetarkan cairan di dalam rumah siput. Cairan yang bergetar menstimulasi ujung-ujung saraf. Impuls dari ujung saraf ini diteruskan ke saraf pendengar di otak besar. Kekhususan pola impuls ditentukan oleh pola gelombang suara yang diterima. Otak besar menerima impuls ini, kemudian menerjemahkannya dan kita mempersepsikannya sebagai suara.
e.       Indera Pengecap (Lidah)
Indera pengecapan merupakan hasil stimulasi ujung saraf tertentu. Pada manusia, ujung saraf pengecap berlokasi di kuncup-kuncup pengecap pada lidah. Kuncup-kuncup pengecap mempunyai bentuk seperti labu, terletak pada lidah di bagian depan hingga belakang. Makanan yang dikunyah bersama air liur memasuki kuncup pengecap melalui pori-pori bagian atas. Makanan akan merangsang ujung saraf yang mempunyai rambut, dari ujung tersebut pesan akan dibawa ke otak. Kemudian diinterpretasikan dan sebagai hasilnya kita dapat mengecap makanan yang masuk ke dalam mulut. Manusia hanya mampu mengecap empat macam cita rasa, yaitu rasa asam, asin, manis, dan pahit. Kuncup pengecap pada lidah untuk masing-masing rasa tersebut terletak di daerah yang berbeda. Untuk cita rasa manis berada di bagian ujung lidah sedangkan depan lidah untuk rasa asin. Kuncup pengecap untuk rasa asam ada di sisi lidah. Kuncup pengecap untuk cita rasa pahit berada di bagian belakang lidah. Inilah sebabnya apabila memakan makanan yang mempunyai rasa manis dan pahit sekaligus, maka yang terasa lebih awal adalah rasa manis barulah kemudian rasa pahit.
B.     Kontrol Gerak atau Motorik
1.      Hakikat Kemampuan Motorik
Kemampuan motorik berasal dari bahasa Inggris yaitu motor abilty. Gerak (motorik) merupakan suatu aktivitas yang sangat penting bagi manusia, karena dengan gerak (motorik) manusia dapat meraih sesuatu yang menjadi harapannya. Kemampuan motorik merupakan hasil gerak individu dalam melakukan gerak, baik gerak yang bukan gerak olahraga maupun gerak dalam olahraga atau kematangan penampilan keterampilan motorik. Kemampuan motorik mempunyai pengertian yang sama dengan kemampuan gerak dasar yang merupakan gambaran umum dari kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas. Aktivitas tersebut dapat membantu berkembangnya pertumbuhan anak. Berkembangnya kemampuan motorik ditentukan oleh dua faktor yaitu, faktor pertumbuhan dan faktor perkembangan. Menurut Sukintaka (2001: 47) kemampuan motorik merupakan perkembangan unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh, keterampilan motorik dan kontrol motorik. Keterampilan anak tidak akan berkembang tanpa adanya kematangan kontrol motorik. Kontrol motorik tidak akan optimal tanpa kebugaran tubuh. Kebugaran tubuh tidak akan tercapai tanpa latihan fisik. Aspek-aspek yang perlu dikembangkan untuk anak adalah motorik, kognitif, emosi, sosial, moralitas dan kepribadian
Sukadiyanto (1997: 70) mengemukakan bahwa kemampuan gerak adalah suatu kemampuan seseorang dalam menampilkan ketrampilan gerak yang lebih luas serta diperjelas bahwa kemampuan motorik suatu kemampuan umum yang berkaitan dengan penampilan berbagai keterampilan atau tugas gerak. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan bahwa kemampuan motorik adalah suatu kemampuan yang diperoleh dari keterampilan gerak umum, yang menjadi dasar untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan serta keterampilan gerak. Seseorang yang memiliki tingkat kemampuan motorik yang tinggi dapat diartikan bahwa orang tersebut memiliki potensi atau kemampuan untuk melakukan keterampilan gerak yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang memiliki kemampuan motorik rendah.
Amung Ma’mun & Yudha M. Saputra (2000: 20) menyatakan bahwa kemampuan gerak merupakan kemampuan yang biasa orang lakukan guna meningkatkan kualitas hidup. Kemampuan gerak dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:
a.       Kemampuan Lokomotor
Kemampuan lokomotor digunakan untuk memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain atau untuk mengangkat tubuh ke atas seperti, lompat dan loncat. Kemampuan gerak lainnya adalah berjalan, berlari, skipping, melompat, meluncur, dan lari seperti kuda berlari (gallop). Dalam bola voli kemampuan lokomotor contohnya adalah lompatan smash, berlari mengejar bola untuk di passing.
b.      Kemampuan Nonlokomotor
Kemampuan nonlokomotor dilakukan di tempat, tanpa ada ruang gerak yang memadai. Kemampuan non lokomotor terdiri dari menekuk dan meregang, mendorong dan menarik, mengangkat dan menurunkan, melipat, memutar, melingkar, melambungkan dan lain-lain. Dalam Bola voli kemampuan nonlokomotor contohnya adalah menekuk dalam  posisi siap untuk  passing bawah dengan kedua kaki ditekuk, melambungkan bola dalam mengumpan.
c.       Kemampuan Manipulatif
Kemampuan manipulatif dikembangkan ketika anak telah menguasai macam-macam obyek. Kemampuan manipulatif lebih banyak melibatkan tangan dan kaki, tetapi bagian lain dari tubuh kita juga dapat digunakan. Manipulasi objek jauh lebih unggul daripada koordinasi mata-kaki dan tangan-mata, yang mana cukup penting untuk item: berjalan (gerakan langkah) dalam ruang. Bentuk-bentuk latihan manipulatif terdiri dari:
1)      Gerakan mendorong (melempar, memukul, menendang).
2)      Gerakan menerima (menangkap) objek adalah kemampuan  penting yang dapat diajarkan dengan menggunakan bola yang terbuat dari bantalan karet (bola medicine) atau macam bola yang lain.
3)      Gerakan memantul-matulkan bola atau mengiring bola.

2.      Unsur-Unsur Kemampuan Motorik
Kemampuan motorik seseorang berbeda-beda tergantung pada banyaknya pengalaman melakukan gerakan yang dikuasainya. Kemampuan-kemampuan yang terdapat dalam kemampuan fisik yang dapat dirangkum menjadi lima komponen, yaitu kekuatan, kecepatan, keseimbangan, kelincahan dan koordinasi. Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam kemampuan motorik menurut Muthohir dan Gusril (2004: 50) adalah sebagai berikut:
a.       Kekuatan
Kekuatan adalah kemampuan sekelompok otot untuk menimbulkan tenaga sewaktu konstraksi. Kekuatan otot harus dipunyai oleh anak sejak usia dini. Apabila anak tidak mempunyai kekuatan tentu dia tidak dapat melakukan aktivitas bermain yang menggunakan fisik seperti berjalan, berlari, melompat, melempar, memanjat, bergantung,  dan mendorong.
b.      Koordinasi
Koordinasi adalah kemampuan untuk mempersatukan atau memisahkan dalam suatu tugas kerja yang kompleks, dengan ketentuan bahwa gerakan koordinasi meliputi kesempurnaan waktu antara otot dan sistem saraf. Anak dalam melakukan lemparan harus ada koordinasi seluruh anggota tubuh yang terlibat. Anak dikatakan baik koordinasi gerakannya apabila anak mampu bergerak dengan mudah dan lancar dalam rangkaian dan irama gerakannya terkontrol dengan baik.
c.       Kecepatan
Kecepatan adalah sebagai kemampuan berdasarkan kelentukan dalam satuan waktu tertentu. Dalam melakukan lari 4 detik, semakin jauh jarak yang ditempuh semakin tinggi kecepatan.
d.      Keseimbangan
Keseimbangan adalah kemampuan seseorang untuk mempertahankan tubuh dalam berbagai posisi. Keseimbangan dibagi dalam dua bentuk, yaitu: keseimbangan statis dan keseimbangan dinamis. Keseimbangan statis merujuk kepada menjaga keseimbangan tubuh ketika berdiri pada suatu tempat, keseimbangan dinamis adalah kemampuan untuk menjaga keseimbangan tubuh ketika berpindah dari suatu tempat ke tempat lain.
e.       Kelincahan
Kelincahan adalah kemampuan seseorang mengubah arah dan posisi tubuh dengan cepat dan tepat pada waktu bergerak pada satu titik ke titik lain dalam melakukan lari zig-zag. Semakin cepat waktu yang ditempuh maka semakin tinggi kelincahannya
3.      Fungsi Kemampuan Motorik
Rusli Lutan (2001: 45-47) menyatakan bahwa pengembangan keterampilan dasar pada siswa Sekolah Dasar ditekankan pada pengembangan dan pengayakan keterampilan geraknya. Semakin banyak perbendaharaan gerak dasarnya, semakin terampil anak melaksanakan keterampilan lainnya, seperti dalam olahraga atau dalam kehidupan sehari-hari, termasuk keterampilan di tempat mereka bekerja.
Muthohir dan Gusril (Ikhsan, 2005: 34) mengemukakan bahwa fungsi utama kemampuan gerak adalah untuk mengembangkan kesanggupan dan kemampuan setiap individu yang berguna untuk mempertinggi daya kerja. Dengan mempunyai kemampuan gerak yang baik, seseorang mempunyai landasan untuk menguasai tugas keterampilan gerak yang khusus. Unsur-unsur kemampuan gerak motorik akan semakin terlatih apabila siswa semakin banyak mengalami berbagai pengalaman aktivitas gerak yang bermacam-macam. Ingatan akan selalu menyimpan pengalaman yang akan dipergunakan untuk kesempatan yang lain, jika melakukan gerakan yang sama. Dengan banyaknya pengalaman gerak yang dilakukan siswa Sekolah Dasar akan menambah kematangan dalam melakukan aktivitas gerak motorik.
4.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Motorik
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik dan motorik seseorang menurut Endang Rini Sukamti (2007: 40-41) ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap laju perkembangan motorik seseorang, antara lain:
a.       Sifat dasar genetik, termasuk bentuk tubuh dan kecerdasan mempunyai pengaruh yang menonjol terhadap laju perkembangan motorik.
b.      Seandainya dalam awal kehidupan pasca lahir tidak ada hambatan kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, semakin aktif janin semakin cepat perkembangan motorik anak.
c.       Kondisi  pralahir yang menyenangkan, khususnya gizi makanan sang ibu, lebih mendorong perkembangan motorik yang lebih cepat pada masa pasca lahir, ketimbang kondisi pralahir yang tidak menyenangkan.
d.      Kelahiran yang sukar, khususnya apabila ada kerusakan pada otak akan memperlambat perkembangan motorik.
e.       Seandainya tidak ada gangguan lingkungan, maka kesehatan dan gizi yang baik pada awal kehidupan pasca lahir akan mempercepat perkembangan motorik.
f.       Anak yang IQ tinggi menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dibandingkan anak yang IQ-nya normal atau di bawah normal.
g.      Adanya rangsangan, dorongan, dan kesempatan untuk menggerakkan semua bagian tubuh akan mempercepat perkembangan motorik.
h.      Perlindungan yang berlebihan akan melumpuhkan kesiapan berkembangnya kemampuan motorik.
i.        Karena rangsangan dan dorongan yang lebih banyak dari orang tua, maka perkembangan motorik anak yang pertama cenderung lebih baik ketimbang perkembangan anak yang lahir kemudian.
j.        Kelahiran sebelum waktunya biasanya memperlambat perkembangan motorik. Hal ini dikarenakan tingkat perkembangan motorik pada waktu lahir berada di bawah tigkat perkembangan bayi yang lahir tepat waktunya.
k.      Cacat fisik, seperti kebutaan akan memperlambat perkembangan motorik.
l.        Dalam perkembangan motorik, perbedaan jenis kelamin, warna kulit dan sosial ekonomi lebih banyak disebabkan oleh perbedaan motivasi dan pelatihan ketimbang anak karena perbedaan bawaan.
C.    Kontribusi Sensori pada Kontrol Motorik
1.      Sumbangan Indera terhadap Keterampilan
Indera  manusia merupakan faktor penting dalam pembuatan gerak yang berorientasi pada keterampilan, baik untuk keterampilan-keterampilan sederhana maupun keterampilan tingkat tinggi. Fungsi dari indera tentu saja terutama berhubungan dengan sumbangannya terhadap keberhasilan gerak, sebab gerak sendiri merupakan hasil dari proses  pengolahan informasi yang diserap oleh indera manusia. Keberhasilan dalam keterampilan-keterampilan tingkat tinggi bergantung pada bagaimana pelaku mampu mendeteksi, menerima, serta memanfaatkan informasi yang bersifat inderawi. Buktinya, seringkali pemenang dari suatu lomba adalah orang atau tim yang memang telah mendeteksi kemampuan lawan, pola permainan lawan, serta kesiapan lawan. Demikian juga untuk olahraga-olahraga seperti senam dan lompat indah, pemain yang memenangkan kejuaraan dalam cabang ini adalah  pemain yang mampu menguasai gerakan tubuhnya setepat mungkin secara lebih baik. Sedangkan dalam cabang olahraga yang memerlukan kecepatan dan ketepatan, latihan yang dilakukan benar-benar harus diarahkan pada peningkatan kemampuan untuk mendeteksi serta memproses informasi inderawi.
2.      Sumber-Sumber Informasi Inderawi
Informasi untuk keterampilan timbul dari beberapa sumber dasar, walaupun bagian terbesar dari informasi tersebut datang dari lingkungan. Sumber informasi tersebut terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
a.       Informasi Exteroceptive
Kata awal extero berarti bahwa informasi yang diterima bersumber dari luar tubuh. Informasi yang paling umum dalam exteroceptive adalah yang berhubungan dengan mata (vision).  Vision  memberikan informasi tentang gerakan objek-objek dalam lingkungan, seperti jalur layangan bola, juga kecepatannya. Fungsi lain dari vision adalah mendeteksi gerakan sendiri dalam lingkungan, seperti jalur ke arah suatu benda atau target dan berapa waktu kira-kira akan akan tiba. Dalam konteks ini, vision memberikan dasar bagi antisipasi tetang sebuah kejadian yang akan datang. Fungsi lain dari vision adalah membantu dalam mendeteksi aspek spatial dan temporal dari gerakan  sendiri di dalam lingkungan, seperti ayunan raket, melangkah dan naik ke dalam kereta, melompati pagar dan lain-lain.
Informasi exteroceptive umum yang kedua adalah datang dari pendengaran atau audition. Meskipun keterlibatannya dalam keterampilan tidak sejelas vision, banyak kegiatan yang tergantung pada keterampilan auditory yang terkembangkan secara baik, seperti menggunakan suara anjungan dari kapal layar yang bergerak di air untuk memperkirakan kecepatan kapal. Audisi juga merupakan sumber penting dari informasi sensorik untuk orang-orang yang memiliki keterbatasan fungsi visual.
b.      Informasi Proprioceptive atau Kinestetik
Sumber informasi yang kedua adalah yang datang dari gerakan tubuh sendiri, itulah yang disebut proprioceptive. Kata awal proprio mengindikasikan informasi dari dalam tubuh, seperti posisi persendian, daya dalam otot-otot, orientasi dalam ruang (misalnya apakah terbalik atau tidak). Istilah proprioceptive ini sering juga disebut dengan istilah kinesthesis. Awalan kines berarti gerakan, dan  thesis berarti rasa. Jadi istilah ini menunjuk pada rasa gerakan dari persendian atau tegangan otot-otot yang memberikan data tentang aksi kita sendiri. Sumber informasi sensoris terutama penting dalam olahraga seperti senam dan lompat indah.
Beberapa reseptor penting menyediakan sistem neuromuskuler dengan informasi kinestetis. Vestibular aparatus dalam telinga bagian dalam telinga mendeteksi gerakan kepala dan sangat sensitif terhadap gravitasi. Informasi yang disediakan oleh struktur reseptor ini penting untuk postur dan keseimbangan.
Reseptor lain menyediakan informasi tentang anggota tubuh. Reseptor ini terletak dalam persendian dan di sekitar  kapsul sendi  (joint receptors) yang memberi tanda tentang posisi sendi, terutama pada jarak gerak sendi yang ekstrem. Kemudian di dalam pusat otot rangka, terdapat juga reseptor yang disebut kumparan otot (muscle spindles), dinamai demikian karena berbentuk kumparan, yang meregang jika otot berkonstraksi dan memberikan informasi tentang jarak konstraksi di samping perubahan posisi persendian. Lalu di dekat persimpangan antara otot dan tendon terdapat juga reseptor yang diketahui sebagai golgi tendon organs, yang memberi tanda tentang tingkat daya dalam bagian yang bermacam-macam dalam otot. Dalam wilayah kulit juga ditemukan cutaneous receptors. Cutaneous receptors termasuk beberapa macam detektor khusus untuk mengetahui tekanan, suhu, sentuhan. Reseptor ini terutama bertanggung jawab untuk memberikan informasi sentuhan.
Masing-masing reseptor ini memberikan lebih dari satu jenis informasi sensoris. Misalnya, muscle spindle memberikan informasi tentang posisi sendi, kecepatan otot, tegangan otot, dan orientasi anggota tubuh dalam hubungannya dengan gaya tarik bumi. Karenanya, tidak seperti vision dan audision yang menyajikan rasa khusus, kinestetis mencakup kombinasi input yang kompleks dari berbagai reseptor yang harus dipadukan oleh sistem syaraf pusat.

D.    Sistem Pengontrolan Loop Tertutup (Closed Loop)
Suatu cara yang penting untuk menggambarkan bagaimana informasi dari indera berfungsi dalam perilaku gerak adalah dengan menyamakannya dengan sistem kontrol closed loop. Loop diartikan sebagai cekungan atau putaran. Dengan demikian, dengan sistem pengontrol closed loop diartikan sebagai suatu sistem yang tidak terputus, tetapi melingkar lagi ke awal. Ini digambarkan seperti suatu sistem pengatur ruangan yang dilengkapi dengan alat pengontrolnya. Pengatur suhu akan mengembalikan suhu udara ke suhu yang diinginkan jika alat pengontrolnya mendeteksi bahwa suhu tersebut tidak lagi dalam kondisi yang diinginkan. Proses tersebut terus berjalan demikian, kecuali kalau alat pengontrolnya rusak. Dalam kaitan itu, pengontrol tersebut selalu memberikan feedback (umpan balik) kepada alat pengatur, sehingga membentuk mekanisme yang mengatur sistem pengontrolan itu. Mekanisme demikian di sebagian teori disebut juga teori cybernetic.
Proses closed loop bekerja juga dalam penampilan gerak manusia, seperti dalam menangkap bola. Informasi visual tentang tangan yang bergerak ke arah bola memberikan feedback. Perbedaan antara arah tangan dan arah yang diinginkan dianggap sebagai kesalahan. Karena pengontrol menemukan kesalahan tersebut maka segera dikirim informasi ke pelaksana gerak dalam bentuk feedback, sehingga selanjutnya kesalahan tersebut akan diperbaiki pada gerakan berikutnya. Hal itu dapat digambarkan sebagai berikut:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar