Powered By Blogger

Minggu, 11 Januari 2015

NEUROLOGICAL CONSIDERATIONS FOR MOVEMENT (SISTEM SARAF DALAM GERAK MANUSIA)


NEUROLOGICAL CONSIDERATIONS FOR MOVEMENT
(SISTEM SARAF DALAM GERAK MANUSIA)

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Biomekanika
Dosen pengampu: Prof. Dr. Suharjana, M.Kes.










 





Disusun oleh:
Tommy Farid Rosyadhi
NIM. 13711251030
IKOR B








PROGRAM STUDI ILMU KEOLAHRAGAAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Manusia diciptakan dengan segala kesempurnaan. Kehidupan manusia (gerak manusia) dikendalikan oleh sistem saraf yang terdiri dari berjuta-juta sel saraf atau dendrit. Sistem saraf merupakan sistem koordinasi atau sistem kontrol yang bertugas menerima rangsangan dan menyalurkan ke seluruh bagian tubuh sekaligus memberikan tanggapan terhadap rangsangan tersebut (jaringan komunikasi dalam tubuh). Sistem saraf memungkinkan makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam.
Sistem saraf bertanggung jawab untuk mengidentifikasi otot yang akan diaktifkan untuk sebuah gerakan tertentu dan menghasilkan stimulus untuk mengembangkan tingkat kekuatan yang akan diperlukan otot. Sistem saraf ini mengkoordinasikan, mengatur, dan mengendalikan interaksi antara seorang individu dengan lingkungan sekitarnya. Sistem tubuh yang penting ini juga mengatur aktivitas sebagian besar sistem tubuh lainnya. Tubuh mampu berfungsi sebagai satu kesatuan yang harmonis karena pengaturan hubungan saraf diantara berbagai sistem. Fenomena mengenai kesadaran, daya pikir, bahasa, sensasi, dan gerakan semuanya berasal dari sistem ini. Kemampuan untuk memahami, belajar, dan merespon terhadap rangsangan merupakan hasil dari integrasi fungsi sistem saraf yang memuncak dalam kepribadian dan perilaku seseorang.
Sistem saraf sangat berperan dalam iritabilitas tubuh. Iritabilitas memungkinkan makhluk hidup dapat menyesuaikan diri dan menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya. Iritabilitas merupakan kemampuan menanggapi rangsangan. Tubuh manusia terdiri atas organ-organ tubuh yang masing-masing mempunyai fungsi tertentu. Agar organ-organ tubuh dapat bekerja sama dengan baik, diperlukan adanya koordinasi (pengaturan). Pada manusia koordinasi dilakukan oleh sistem saraf, sistem indra, sistem hormon, dan otot.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.      Apa yang dimaksud dengan sistem saraf?
2.      Apa fungsi dari sistem saraf?
3.      Apa jenis-jenis atau klasifikasi sel saraf?
4.      Bagaimana cara kerja sistem saraf?
C.    Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui kajian tentang sistem saraf dan cara kerja sistem saraf dalam gerak manusia.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sistem Saraf
Sistem saraf merupakan sistem koordinasi atau sistem kontrol yang bertugas menerima rangsangan dan menyalurkan ke seluruh bagian tubuh sekaligus memberikan tanggapan terhadap rangsangan tersebut (jaringan komunikasi dalam tubuh). Sistem saraf memungkinkan makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam. Sistem saraf (nervous system) merupakan sistem jaringan komunikasi yang menghubungkan setiap bagian dari tubuh kita serta berfungsi dalam proses menangapi rangsangan dari luar serta mengendalikan otot-otot kita.
Sel saraf atau neuron adalah satuan anatomis dan fungsional independen dengan ciri morfologis majemuk. Sel saraf berperan pada penerimaan, penghantaran, dan pemrosesan rangsang; pencetus aktivitas sel tertentu; serta pelepas neotrasmiter dan molekul-molekul penyampai lainnya. Sel saraf mengirimkan pesan (impuls) yang berupa rangsang atau tanggapan. Sel saraf memiliki bagian-bagian sel yang berbeda dengan tipe sel lainnya. Berikut bagian-bagian sel saraf beserta fungsinya dalam menghantarkan impuls (rangsangan) sebagai unit fungsional sistem saraf:
1.      Dendrite merupakan penjuluran pendek yang keluar dari badan sel. Dendrite berfungsi untuk menghantarkan impuls dari luar sel neuron ke dalam badan sel.
2.      Badan sel merupakan bagian neuron yang banyak mengandung cairan sel (sitoplasma) dan terdapatnya inti sel (nucleus). Badan sel berfungsi sebagai penerima impuls dari dendrite dan menghantarkannya menuju axon dengan perantara sitoplasma.
3.      Sitoplasma merupakan cairan pengisi badan sel. Sitoplasma berfungsi untuk mempercepat penyampaian atau penghantaran impuls dalam sel.
4.      Nucleus merupakan bagian terpenting dari sel. Bentuknya akan menyesuaikan bentuk sel. Nucleus berfungsi untuk mengatur seluruh kegiatan sel dan pembelahan sel.
5.      Axon atau neurit merupakan penjuluran yang panjang yang keluar dari badan sel. Axon berfungsi untuk menerima impuls dari badan sel dan menghantarkannya ke percabangan axon.
6.      Percabangan axon merupakan bagian dari axon yang bercabang-cabang dan berfungsi menerima impuls dari axon.
7.      Selubung neurolema atau neurilema merupakan selaput tipis yang berada paling luar dari axon. Selubung neurolema berfungsi untuk melindungi axon serta memberikan nutrisi pada axon.
8.      Selubung myelin merupakan selaput tipis yang berhubungan langsung dengan axon dan terletak setelah selubung neurilema. Selubung myelin berfungsi untuk melindungi axon dan memberikan nutrisi pada axon.
9.      Sel schwann merupakan sel-sel yang terdapat di dalam selubung myelin. Sel schwann berfungsi untuk memperbaiki sel axon yang rusak.
10.  Nodus ranvier merupakan celah di antara axon yang tidak tertutup oleh selubung neurilema. Nodus ranvier berfungsi untuk mempercepat penyampaian impuls ke neuron.
Sel saraf berkomunikasi dengan cepat antar kelompok-kelompok sel yang diatur secara serial, sehingga memungkinkan penghantaran informasi yang cepat melewati jarak yang jauh. Sel saraf pada manusia dapat kita kelompokkan berdasarkan struktur dan fungsinya. Sel saraf atau neuron berdasarkan strukturnya dibagi menjadi tiga tipe, yaitu neuron multipolar, neuron bipolar, dan neuron unipolar. Neuron multipolar adalah tipe neuron yang memiliki banyak dendrite dan satu axon. Neuron bipolar memiliki hanya satu dendrite dan satu axon, sedangkan neuron unipolar tidak memiliki dendrite dan proses penghantaran impuls dilakukan oleh satu axon.
Tipe Saraf
Sel saraf atau neuron berdasarkan struktur dan fungsinya dibagi menjadi tiga tipe, yaitu sel saraf sensorik, sel saraf motorik, dan sel saraf intermediet (asosiasi).

1.       Sel Saraf Sensorik
Fungsi sel saraf sensorik adalah menghantar impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak (ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis). Ujung axon dari saraf sensori berhubungan dengan saraf asosiasi (intermediet). Sel saraf sensorik disebut juga dengan sel saraf indra karena berhubungan dengan alat indra.
2.       Sel Saraf Motorik
Fungsi sel saraf motorik adalah mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke otot atau kelenjar yang hasilnya berupa tanggapan tubuh terhadap rangsangan. Badan sel saraf motor berada di sistem saraf pusat. Dendritnya sangat pendek berhubungan dengan axon saraf asosiasi, sedangkan axon-nya dapat sangat panjang. Sel saraf motorik disebut juga dengan sel saraf penggerak, hal ini dikarena berhubungan erat dengan otot sebagai alat gerak.
3.       Sel Saraf Asosiasi atau Intermediet
Sel saraf intermediet disebut juga sel saraf asosiasi. Sel ini dapat ditemukan di dalam sistem saraf pusat dan berfungsi menghubungkan sel saraf motor dengan sel saraf sensori atau berhubungan dengan sel saraf lainnya yang ada di dalam sistem saraf pusat. Sel saraf intermediet menerima impuls dari reseptor sensori atau sel saraf asosiasi lainnya. Kelompok-kelompok serabut saraf, axon, dan dendrit bergabung dalam satu selubung dan membentuk urat saraf. Sedangkan badan sel saraf berkumpul membentuk ganglion atau simpul saraf.
B.     Mekanisme Kerja Sistem Saraf
Impuls berjalan dari korteks serebri menuju sumsum tulang belakang, melalui jalur-jalur menurun yang disebut traktus serebro spinalis atau traktus piramidalis. Neuron pada jalur saraf motorik terbagi menjadi neuron motorik atas dan neuron motorik bawah. Neuron motorik atas memiliki badan-badan sel dalam daerah pre-rolandi pada korteks serebri dan serabut-serabutnya berpadu erat pada saat mereka melintas antara nukleus-kaudatus dan lentiformis dalam kapsula interna. Neuron motorik bawah berawal di dalam badan sel dalam kornu anterior sumsum tulang belakang dan selanjutnya keluar serta masuk melalui akar anterior saraf spinalis. Neuron tersebut didistribusikan ke periferi dan berakhir di dalam organ motorik misalnya otot.
Impuls saraf sensorik bergerak melintasi traktus menaik yang terdiri dari tiga neuron. Neuron yang pertama terletak paling tepi. Neuron ini memiliki badan sel dalam ganglion sensorik pada akar posterior saraf spinalis. Selanjutnya dendron yang merupakan sebuah cabangnya bergerak menuju periferi dan berakhir pada satu organ sensorik, misalnya kulit. Sementara axon yang merupakan cabangnya yang lain bergerak masuk ke dalam sumsum tulang belakang, kemudian naik menuju kolumna posterior dan berakhir pada sekeliling sebuah nukleus dalam medulla oblongata. Neuron yang kedua timbul dalam nucleus tersebut. Neuron melintasi garis tengah dalam cara yang sama seperti jalur motorik desendens untuk membentuk dekukasio sensorik, naik melalui pons dan dien salafon guna mencapai thalamus. Neuron yang ketiga bermula dalam thalamus dan bergerak melalui kapsula interna untuk mencapai daerah sensorik korteks serebri. Traktus menaik ini menghasilkan impuls sentuhan, rasa sakit, dan suhu.
C.    Sistem Saraf Pusat
Sistem saraf pusat meliputi otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang (medula spinalis). Kedua sistem saraf pusat ini merupakan organ yang sangat lunak dengan fungsi yang sangat penting dan perlu perlindungan. Selain dilindungi oleh tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, otak juga dilindungi tiga lapisan selaput meninges. Apabila membran ini terkena infeksi, maka akan terjadi radang yang disebut meningitis. Ketiga lapisan membran meninges dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Durameter merupakan selaput yang kuat dan bersatu dengan tengkorak.
2.      Araknoid bentuknya seperti sarang labah-labah. Di dalamnya terdapat cairan serebrospinalis semacam cairan limfa yang mengisi sela-sela membran araknoid. Selaput araknoid berfungsi sebagai bantalan untuk melindungi otak dari bahaya kerusakan mekanik.
3.      Piameter merupakan lapisan yang dipenuhi dengan pembuluh darah dan sangat dekat dengan permukaan otak. Lapisan ini berfungsi untuk memberi oksigen dan nutrisi serta mengangkut bahan sisa metabolisme.
Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai tiga materi esensial yaitu:
1.      Badan sel yang membentuk bagian materi kelabu (substansi grissea)
2.      Serabut saraf yang membentuk bagian materi putih (substansi alba)
3.      Sel-sel neuroglia merupakan jaringan ikat yang terletak di antara sel-sel saraf di dalam sistem saraf pusat.
Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai materi sama, tetapi susunannya berbeda. Otak disusun oleh materi kelabu yang terletak di bagian luar atau kulitnya (korteks) dan bagian putih terletak di tengah. Pada sumsum tulang belakang bagian tengah berupa materi kelabu berbentuk kupu-kupu, sedangkan bagian korteks berupa materi putih.
Otak mempunyai lima bagian utama, yaitu: otak besar (serebrum), otak tengah (mesensefalon), otak kecil (serebelum), sumsum sambung (medulla oblongata), dan jembatan varol.
1.      Otak Besar (Serebrum)
Otak besar mempunyai fungsi dalam pengaturan semua aktifitas mental yang berkaitan dengan kepandaian (intelegensi), ingatan (memori), kesadaran, dan pertimbangan. Otak besar merupakan sumber dari semua kegiatan atau gerakan sadar atau sesuai dengan kehendak. Pada bagian korteks serebrum yang berwarna kelabu terdapat bagian penerima rangsang (area sensor) yang terletak di sebelah belakang area motor yang berfungsi mengatur gerakan sadar atau merespon rangsangan. Selain itu terdapat area asosiasi yang menghubungkan area motor dan sensorik. Area ini berperan dalam proses belajar, menyimpan ingatan, membuat kesimpulan, dan belajar berbagai bahasa. Di sekitar kedua area tersebut merupakan bagian yang mengatur kegiatan psikologi yang lebih tinggi. Misalnya bagian depan merupakan pusat proses berfikir (mengingat, analisis, berbicara, dan kreativitas) dan emosi. Pusat penglihatan terdapat di bagian belakang.
2.      Otak Tengah (Mesensefalon)
Otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan varol. Di depan otak tengah terdapat thalamus dan kelenjar hipofisis yang mengatur kerja kelenjar-kelenjar endokrin. Bagian atas (dorsal) otak tengah merupakan lobus optikus yang mengatur refleks mata seperti penyempitan pupil mata, dan juga merupakan pusat pendengaran.
3.      Otak Kecil (Serebelum)
Serebelum mempunyai fungsi utama dalam koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau berbahaya maka gerakan sadar yang normal tidak mungkin dilaksanakan.
4.      Sumsum Sambung (Medulla Oblongata)
Sumsum sambung berfungsi menghantar impuls yang datang dari medula spinalis menuju ke otak. Sumsum sambung juga mempengaruhi refleks fisiologi seperti detak jantung, tekanan darah, volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan serta sekresi kelenjar pencernaan. Sumsum sambung mengatur gerak refleks yang lain seperti bersin, batuk, dan berkedip.



5.      Jembatan Varol (Pons Varoli)
Jembatan varol berisi serabut saraf yang menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar dan sumsum tulang belakang.
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang tampak bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam berbentuk kupu-kupu dan berwarna kelabu. Pada penampang melintang sumsum tulang belakang ada bagian seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor dihantar masuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor keluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan menerima impuls dari sel saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf motor.
Pada bagian putih terdapat serabut saraf asosiasi. Kumpulan serabut saraf membentuk saraf (urat saraf). Urat saraf yang membawa impuls ke otak merupakan saluran asenden dan yang membawa impuls yang berupa perintah dari otak merupakan saluran desenden.
D.    Sistem Saraf Tepi
Susunan saraf tepi terdiri atas serabut saraf otak dan serabut saraf sumsum tulang belakang (spinal). Serabut saraf sumsum dari otak, keluar dari otak sedangkan serabut saraf sumsum tulang belakang keluar dari sela-sela ruas tulang belakang. Tiap pasang serabut saraf otak akan menuju ke alat tubuh atau otot, misalnya ke hidung, mata, dan telinga. Sistem saraf tepi terdiri atas serabut saraf sensorik dan motorik yang membawa impuls saraf menuju ke dan dari sistem saraf pusat. Sistem saraf tepi terdiri atas sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan, dan sekresi keringat.
  1. Sistem Saraf Sadar
Sistem saraf sadar disusun oleh saraf otak (saraf kranial) yaitu saraf-saraf yang keluar dari otak dan saraf sumsum tulang belakang yaitu saraf-saraf yang keluar dari sumsum tulang belakang.
Saraf otak ada 12 pasang yang terdiri dari:
a.       Tiga pasang saraf sensori
b.       Lima pasang saraf motor
c.       Empat pasang saraf gabungan sensori dan motor
Saraf otak dikhususkan untuk daerah kepala dan leher, kecuali nervus vagus yang melewati leher ke bawah sampai daerah toraks dan rongga perut. Nervus vagus membentuk bagian saraf otonom. Nervus vagus disebut saraf pengembara karena daerah jangkauannya sangat luas dan sekaligus merupakan saraf otak yang paling penting.
Saraf sumsum tulang belakang berjumlah 31 pasang saraf gabungan. Berdasarkan asalnya, saraf sumsum tulang belakang dibedakan atas 8 pasang saraf leher, 12 pasang saraf punggung, 5 pasang saraf pinggang, 5 pasang saraf pinggul, dan 1 pasang saraf ekor.
Beberapa urat saraf bersatu membentuk jaringan urat saraf yang disebut pleksus. Ada 3 buah pleksus yaitu sebagai berikut:
a.       Pleksus cervicalis merupakan gabungan urat saraf leher yang mempengaruhi bagian leher, bahu, dan diafragma.
b.      Pleksus brachialis mempengaruhi bagian tangan.
c.       Pleksus jumbo sakralis yang mempengaruhi bagian pinggul dan kaki.
  1. Saraf Otonom
Sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari otak maupun dari sumsum tulang belakang dan menuju organ yang bersangkutan. Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan masing-masing jalur membentuk sinapsis yang kompleks dan juga membentuk ganglion. Urat saraf yang terdapat pada pangkal ganglion disebut urat saraf pra ganglion dan yang berada pada ujung ganglion disebut urat saraf post ganglion.
Sistem saraf otonom dapat dibagi atas sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. Perbedaan struktur antara saraf simpatik dan parasimpatik terletak pada posisi ganglion. Saraf simpatik mempunyai ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang menempel pada sumsum tulang belakang sehingga mempunyai urat pra ganglion pendek. Sedangkan saraf parasimpatik mempunyai urat pra ganglion yang panjang karena ganglion menempel pada organ yang dibantu.
Fungsi sistem saraf simpatik dan parasimpatik selalu berlawanan (antagonis). Sistem saraf parasimpatik terdiri dari keseluruhan nervus vagus bersama cabang-cabangnya ditambah dengan beberapa saraf otak lain dan saraf sumsum sambung.
Tabel Fungsi Saraf Otonom
Parasimpatik
Simpatik
mengecilkan pupil
memperbesar pupil
menstimulasi aliran ludah
menghambat aliran ludah
memperlambat denyut jantung
mempercepat denyut jantung
membesarkan bronkus
mengecilkan bronkus
menstimulasi sekresi kelenjar pencernaan
menghambat sekresi kelenjar pencernaan
mengerutkan kantung kemih
menghambat kontraksi kandung kemih

E.     Saraf Sensorik
Fungsi sel saraf sensorik adalah menghantar impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak (ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis). Ujung axon dari saraf sensori berhubungan dengan saraf asosiasi (intermediet). Sel saraf sensorik disebut juga dengan sel saraf indra karena berhubungan dengan alat indra.
Gerak dapat dilakukan secara sadar (gerak biasa) dan secara tidak sadar (gerak reflek). Perbedaan dari kedua macam gerak tersebut adalah berkaitan dengan jalannya impuls saraf yang melewati sistem saraf pusat, yaitu jika impuls melewati otak maka gerak yang dilakukan sebagai hasil respon dari otak dinamakan gerak sadar, sedangkan jika impuls tidak melewati otak tetapi sumsum tulang belakang, maka gerak yang dihasilkan sebagai respon dari sumsum tulang belakang dinamakan gerak reflek. Adapun macam gerak refleks sebagai berikut:
1.       Refleks Spinal (sumsum tulang belakang)
Bila dipisahkan dari bagian otak lainnya, medspin mampu memediasi sejumlah refleks, somatik dan autonomik. Dasar morfologis refleks saraf umumnya disebut arkus refleks, yang dalam bentuknya yang paling sederhana tersusun atas: (1) reseptor, yang bereaksi terhadap stimulus; (2) penghantar eferen, yang membawa impuls ke pusat refleks (penghantar aferen adalah serabut sensorik aferen yang kebanyakan mempunyai badan sel di ganglion spinal atau kranial); (3) pusat refleks merupakan tempat pesan aferen dari reseptor berkumpul dengan impuls aferen dari reseptor lainnya, atau dengan aferen dari sumber lain, yang mungkin mengubah pengaruh impuls aferen dari reseptor; (4) penghantar eferen, yaitu serabut saraf yang menuju ke efektor; (5) efektor merupakan bagian yang menghasilkan reaksi (otot dan kelenjar atau vasa darah).
2.       Refleks Cerebellar (melibatkan otak kecil)
Otak kecil terletak di bawah bagian belakang otak belakang yang terdiri atas dua belahan yang berliku-liku sangat dalam. Otak kecil berperan sebagai pusat keseimbangan, koordinasi kegiatan otak, koordinasi kerja otot dan rangka. Medula oblongata membentuk bagian bawah batang otak yang berfungsi sebagai pusat pengatur refleks fisiologis (pernapasan, detak jantung, tekanan darah, suhu tubuh, gerak alat pencernaan, gerak refleks seperti batuk, bersin, dan mata berkedip).
3.       Refleks Superficial
Refleks superficial atau refleks plantar dan abdominal diawali oleh stimulasi kutan. Refleks ini membutuhkan lengkung refleks korda dan jalur kortikospinal. Contoh dari refleks superficial adalah:
a.       Refleks dinding perut: goresan dinding perut daerah epigastrik, supra umbilikal, umbilikal, intra umbilikal dari lateral ke medial. Respon berupa kontraksi dinding perut
b.       Refleks cremaster: goresan pada kulit paha sebelah medial dari atas ke bawah. Respon berupa elevasi testes ipsilateral.
c.       Refleks gluteal: goresan atau tusukan pada daerah gluteal. Respon berupa gerakan reflektorik otot gluteal ipsilateral
4.       Refleks Visceral
Refleks visceral ini sering disebut juga refleks otonom karena sering melibatkan organ internal tubuh. Refleks visceral (urinasi dan defekasi) merupakan refleks spinal yang bisa terjadi tanpa input dari otak. Refleks spinal dimodulasi oleh excitatory atau inhibitory signal dari otak yang dibawa oleh jaras descending dari pusat otak yang lebih tinggi. Urinasi dapat diinisiasi secara sadar dengan kesadaran atau bisa juga dihambat oleh stres dan emosi.
Refleks visceral lain diintegrasikan di otak (hipotalamus, thalamus, dan batang otak). Daerah ini berisi pusat koordinasi yang dibutuhkan untuk menjaga homeostatis seperti detak jantung, tekanan darah, nafas, makan, keseimbangan air, dan menjaga temperatur. Di sini juga ada pusat refleks seperti salivating, muntah, bersin, batuk, menelan, dan tersendak.
F.     Reseptor Sensorik
Reseptor sensorik merupakan struktur saraf yang terletak di seluruh jaringan tubuh dan menyediakan informasi mengenai keadaan jaringan bagi CNS melalui neuron afferen. Reseptor spesifik menyediakan informasi yang spesifik pula seperti:
  1. Nosiseptor berhubungan dengan rasa sakit dan ketidaknyamanan
  2. Propioseptor berhubungan dengan posisi dan pergerakan mandibula
  3. Interoseptor berhubungan dengan keadaan organ dalam
Semua input yang diterima reseptor menjadikan korteks dan batang otak mengkoordinasi kerja otot untuk merespon dengan tepat. Tiga tipe utama reseptor sensorik pada sistem mastikasi (pengunyahan):
  1. Muscle Spindle
 Muscle spindle adalah organ deria yang terdapat dalam struktur otot tubuh manusia. Muscle spindle adalah sejenis proprioceptor yang merupakan deria dalam otot yang mengenal pasti lokasi bahagian badan manusia. Muscle spindle akan memantau keadaan otot yang semakin memanjang dan apabila maklumat mengenai keadaan otot disalurkan ke otak, maka akan membuatkan seseorang itu merasakan seperti ada suatu ruang di tubuh mereka. Muscle spindle secara morfologis dan fungsional paling banyak diketahui dan organisasinya paling kompleks. Muscle spindle terdapat di semua otot alat lokomotor dan pada beberapa otot jang diinervasi saraf kranial, misalnya otot larynx, otot mastikasi, lidah, dan otot ekstraokular. Jumlah muscle spindle sangat bervariasi pada berbagai otot. Otot yang dipakai untuk gerak yang halus mempunyai lebih banyak muscle spindle dibandingkan dengan otot yang digunakan untuk gerak kasar.
  1. Tendon Golgi
Tendon adalah struktur yang menyambung otot pada tulang. Tendon golgi dihasilkan oleh kolagen dan juga mengandung sel saraf. Struktur ini juga disebut sebagai organ tendon atau organ neurotendinous.
  1. Korpus Pacini
Organ berbentuk oval yang terbuat dari lamela konsentrik jaringan ikat dan tersebar secara luas. Korpus pacini lebih banyak berlokasi di sendi, maka korpus pacini dipertimbangkan merespon persepsi pergerakan dan tekanan yang keras, bukan sentuhan yang ringan. Korpus pacini ditemukan di tendon, sendi, periosteum, insersi tendon, dan fascia. Tekanan yang mengenai jaringan dan merusak organ akan menstimulasi serat saraf.



BAB III
PENUTUP

Sistem saraf merupakan sistem koordinasi atau sistem kontrol yang bertugas menerima rangsangan dan menyalurkan ke seluruh bagian tubuh sekaligus memberikan tanggapan terhadap rangsangan tersebut (jaringan komunikasi dalam tubuh). Sistem saraf memungkinkan makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam.
Berdasarkan struktur dan fungsinya, sel saraf dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu sel saraf sensori, sel saraf motor, dan sel saraf intermediet (asosiasi). Berdasarkan macamnya, sistem saraf itu meliputi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat meliputi otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang (medula spinalis). Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang sangat penting maka perlu perlindungan. Susunan saraf tepi terdiri atas serabut saraf otak dan serabut saraf sumsum tulang belakang (spinal). Serabut saraf sumsum dari otak, keluar dari otak sedangkan serabut saraf sumsum tulang belakang keluar dari sela-sela ruas tulang belakang.


DAFTAR PUSTAKA

Hamill, J and Knuzen, K. 2009. Biomechanical Basis of Human Movement. Philadelpha: Lippicott Williams.
Pack, P. E. 2001. Biology 2nd Edition Cliffs. New York: Hungry Minds.
Rae-Dupree, J. and Pat, D. 2007. Anatomy and Physiology for Dummies. Indiana: Wiley Publishing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar