NEUROLOGICAL
CONSIDERATIONS FOR MOVEMENT
(SISTEM SARAF DALAM GERAK MANUSIA)
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Biomekanika
Dosen pengampu: Prof. Dr. Suharjana,
M.Kes.
Disusun oleh:
Tommy Farid Rosyadhi
NIM. 13711251030
IKOR B
PROGRAM STUDI ILMU KEOLAHRAGAAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia diciptakan dengan segala kesempurnaan. Kehidupan manusia
(gerak manusia) dikendalikan oleh sistem saraf yang terdiri dari berjuta-juta
sel saraf atau dendrit. Sistem saraf merupakan sistem koordinasi atau sistem
kontrol yang bertugas menerima rangsangan dan menyalurkan ke seluruh bagian
tubuh sekaligus memberikan tanggapan terhadap rangsangan tersebut (jaringan
komunikasi dalam tubuh). Sistem saraf memungkinkan makhluk hidup tanggap dengan
cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar maupun
dalam.
Sistem saraf
bertanggung jawab untuk mengidentifikasi
otot yang akan diaktifkan untuk sebuah gerakan tertentu dan menghasilkan
stimulus untuk mengembangkan tingkat kekuatan yang akan diperlukan otot. Sistem saraf ini
mengkoordinasikan, mengatur, dan
mengendalikan interaksi antara seorang individu dengan lingkungan sekitarnya.
Sistem tubuh yang penting ini juga mengatur aktivitas sebagian besar sistem
tubuh lainnya. Tubuh mampu berfungsi sebagai satu kesatuan yang harmonis karena
pengaturan hubungan saraf diantara berbagai sistem. Fenomena mengenai
kesadaran, daya pikir, bahasa, sensasi, dan gerakan semuanya berasal dari sistem ini. Kemampuan untuk
memahami, belajar, dan merespon terhadap rangsangan merupakan hasil dari
integrasi fungsi sistem saraf yang memuncak dalam kepribadian dan perilaku
seseorang.
Sistem saraf sangat
berperan dalam iritabilitas tubuh. Iritabilitas memungkinkan makhluk hidup
dapat menyesuaikan diri dan menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi di
lingkungannya. Iritabilitas merupakan kemampuan menanggapi rangsangan. Tubuh manusia terdiri atas organ-organ tubuh yang
masing-masing mempunyai fungsi tertentu. Agar organ-organ tubuh dapat bekerja
sama dengan baik, diperlukan adanya koordinasi (pengaturan). Pada manusia
koordinasi dilakukan oleh sistem saraf, sistem indra, sistem hormon, dan otot.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka masalah yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Apa
yang dimaksud dengan sistem saraf?
2. Apa fungsi dari sistem saraf?
3. Apa jenis-jenis atau klasifikasi sel
saraf?
4. Bagaimana cara kerja sistem saraf?
C.
Tujuan
Penulisan makalah
ini bertujuan
untuk mengetahui kajian tentang sistem saraf dan cara kerja sistem saraf dalam
gerak manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sistem Saraf
Sistem saraf
merupakan sistem koordinasi atau sistem kontrol yang bertugas menerima
rangsangan dan menyalurkan ke seluruh bagian tubuh sekaligus memberikan
tanggapan terhadap rangsangan tersebut (jaringan komunikasi dalam tubuh). Sistem
saraf memungkinkan makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap
perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam. Sistem
saraf (nervous system) merupakan
sistem jaringan komunikasi yang menghubungkan setiap bagian dari tubuh kita serta berfungsi dalam
proses menangapi rangsangan dari
luar serta mengendalikan otot-otot kita.
Sel saraf atau neuron adalah satuan
anatomis dan fungsional independen dengan ciri morfologis majemuk. Sel saraf
berperan pada penerimaan, penghantaran, dan pemrosesan rangsang; pencetus aktivitas sel
tertentu; serta pelepas
neotrasmiter dan molekul-molekul penyampai lainnya. Sel saraf mengirimkan
pesan (impuls) yang berupa rangsang atau tanggapan. Sel saraf memiliki
bagian-bagian sel yang berbeda dengan tipe sel lainnya. Berikut bagian-bagian
sel saraf beserta fungsinya dalam menghantarkan impuls (rangsangan) sebagai
unit fungsional sistem saraf:
1. Dendrite merupakan
penjuluran pendek yang keluar dari badan sel. Dendrite berfungsi
untuk menghantarkan impuls dari luar sel neuron ke dalam badan sel.
2. Badan sel
merupakan bagian neuron yang banyak
mengandung cairan sel (sitoplasma)
dan terdapatnya inti
sel (nucleus). Badan sel berfungsi sebagai
penerima impuls dari dendrite dan
menghantarkannya menuju axon dengan
perantara sitoplasma.
3. Sitoplasma merupakan cairan
pengisi badan sel. Sitoplasma berfungsi untuk mempercepat penyampaian atau penghantaran
impuls dalam sel.
4. Nucleus merupakan bagian terpenting dari sel. Bentuknya akan
menyesuaikan bentuk sel. Nucleus
berfungsi untuk mengatur seluruh kegiatan sel dan pembelahan sel.
5. Axon atau neurit merupakan
penjuluran yang panjang yang keluar dari badan sel. Axon berfungsi
untuk menerima impuls dari badan sel dan menghantarkannya ke percabangan axon.
6. Percabangan
axon merupakan bagian dari axon yang bercabang-cabang dan berfungsi menerima
impuls dari axon.
7. Selubung neurolema atau neurilema merupakan
selaput tipis yang berada paling
luar dari axon. Selubung neurolema berfungsi untuk melindungi axon serta memberikan nutrisi pada axon.
8. Selubung myelin merupakan selaput tipis yang
berhubungan langsung dengan axon dan
terletak setelah selubung neurilema. Selubung
myelin berfungsi untuk melindungi axon dan memberikan nutrisi pada axon.
9. Sel schwann merupakan sel-sel yang terdapat di dalam
selubung myelin. Sel schwann berfungsi untuk memperbaiki sel axon yang rusak.
10. Nodus ranvier merupakan celah
di antara axon yang tidak tertutup oleh selubung neurilema. Nodus ranvier berfungsi
untuk mempercepat penyampaian impuls ke neuron.
Sel
saraf berkomunikasi dengan cepat antar kelompok-kelompok sel yang diatur secara
serial, sehingga memungkinkan penghantaran informasi yang cepat melewati jarak
yang jauh. Sel saraf pada
manusia dapat kita kelompokkan berdasarkan struktur dan fungsinya. Sel saraf atau neuron berdasarkan
strukturnya dibagi menjadi tiga tipe, yaitu neuron
multipolar, neuron bipolar, dan neuron unipolar. Neuron
multipolar adalah tipe neuron yang
memiliki banyak dendrite dan satu axon. Neuron
bipolar memiliki hanya satu dendrite
dan satu axon, sedangkan neuron
unipolar tidak memiliki dendrite
dan proses penghantaran impuls dilakukan oleh satu axon.

Sel
saraf atau neuron berdasarkan struktur
dan fungsinya dibagi
menjadi tiga tipe,
yaitu sel saraf sensorik, sel
saraf motorik, dan sel
saraf intermediet (asosiasi).
1. Sel Saraf Sensorik
Fungsi sel saraf sensorik adalah menghantar impuls dari
reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak (ensefalon)
dan sumsum belakang (medula spinalis).
Ujung axon dari saraf sensori berhubungan dengan saraf
asosiasi (intermediet). Sel saraf sensorik disebut juga dengan sel saraf indra
karena berhubungan dengan alat indra.
2. Sel Saraf
Motorik
Fungsi sel saraf motorik adalah mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke otot
atau kelenjar yang hasilnya berupa tanggapan tubuh terhadap rangsangan. Badan
sel saraf motor berada di sistem saraf pusat. Dendritnya sangat pendek
berhubungan dengan axon saraf asosiasi, sedangkan axon-nya dapat
sangat panjang. Sel saraf
motorik disebut juga dengan sel saraf penggerak, hal ini dikarena berhubungan erat dengan otot sebagai alat gerak.
3. Sel Saraf Asosiasi atau Intermediet
Sel saraf intermediet disebut juga sel saraf asosiasi.
Sel ini dapat ditemukan di dalam sistem saraf pusat dan berfungsi menghubungkan
sel saraf motor dengan sel saraf sensori atau berhubungan dengan sel saraf
lainnya yang ada di dalam sistem saraf pusat. Sel saraf intermediet menerima
impuls dari reseptor sensori atau sel saraf asosiasi lainnya. Kelompok-kelompok
serabut saraf, axon, dan dendrit
bergabung dalam satu selubung dan membentuk urat saraf. Sedangkan badan sel
saraf berkumpul membentuk ganglion
atau simpul saraf.
B.
Mekanisme
Kerja Sistem Saraf
Impuls berjalan dari korteks
serebri menuju sumsum tulang belakang, melalui jalur-jalur menurun yang
disebut traktus serebro spinalis atau traktus piramidalis. Neuron pada jalur saraf motorik terbagi
menjadi neuron motorik atas dan neuron motorik bawah. Neuron motorik atas memiliki badan-badan
sel dalam daerah pre-rolandi pada korteks
serebri dan
serabut-serabutnya berpadu erat pada saat mereka melintas antara nukleus-kaudatus dan lentiformis dalam kapsula interna. Neuron motorik bawah berawal di dalam
badan sel dalam kornu anterior sumsum tulang belakang dan selanjutnya keluar serta masuk melalui akar anterior
saraf spinalis. Neuron tersebut didistribusikan
ke periferi dan berakhir di
dalam organ motorik misalnya otot.
Impuls saraf sensorik bergerak melintasi traktus menaik yang terdiri dari tiga
neuron. Neuron yang pertama
terletak paling tepi. Neuron ini memiliki badan sel
dalam ganglion sensorik pada akar posterior saraf
spinalis. Selanjutnya dendron yang
merupakan sebuah cabangnya bergerak menuju periferi dan berakhir pada satu
organ sensorik, misalnya
kulit. Sementara axon yang merupakan cabangnya yang lain bergerak masuk ke dalam
sumsum tulang belakang, kemudian naik
menuju kolumna posterior dan berakhir pada sekeliling sebuah nukleus
dalam medulla oblongata. Neuron yang kedua timbul dalam nucleus tersebut. Neuron melintasi
garis tengah dalam cara yang sama seperti jalur motorik desendens untuk membentuk dekukasio
sensorik, naik melalui pons dan dien salafon guna mencapai thalamus. Neuron yang ketiga bermula dalam thalamus dan bergerak melalui kapsula
interna untuk mencapai daerah sensorik
korteks serebri. Traktus menaik
ini menghasilkan impuls sentuhan,
rasa sakit, dan suhu.
C.
Sistem Saraf Pusat
Sistem saraf pusat meliputi otak (ensefalon) dan
sumsum tulang belakang (medula spinalis). Kedua sistem saraf pusat ini merupakan
organ yang sangat lunak dengan fungsi yang sangat penting dan perlu
perlindungan. Selain dilindungi
oleh tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, otak juga dilindungi tiga lapisan selaput meninges.
Apabila membran ini terkena infeksi, maka akan terjadi radang yang disebut meningitis.
Ketiga lapisan membran meninges dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Durameter merupakan selaput
yang kuat dan bersatu dengan tengkorak.
2. Araknoid bentuknya
seperti sarang labah-labah. Di dalamnya terdapat cairan serebrospinalis semacam
cairan limfa yang mengisi sela-sela membran araknoid.
Selaput araknoid berfungsi sebagai bantalan
untuk melindungi otak dari bahaya kerusakan mekanik.
3. Piameter merupakan lapisan yang dipenuhi dengan pembuluh darah dan sangat dekat dengan
permukaan otak. Lapisan ini berfungsi untuk memberi oksigen dan nutrisi serta
mengangkut bahan sisa metabolisme.
Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai tiga materi esensial
yaitu:
1.
Badan sel yang membentuk bagian materi kelabu (substansi
grissea)
2.
Serabut saraf yang membentuk bagian materi putih (substansi
alba)
3.
Sel-sel neuroglia merupakan jaringan ikat yang
terletak di antara sel-sel saraf di dalam sistem saraf pusat.
Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai materi sama, tetapi susunannya berbeda. Otak disusun oleh materi kelabu yang terletak di bagian
luar atau kulitnya (korteks) dan
bagian putih terletak di tengah. Pada sumsum tulang belakang bagian tengah
berupa materi kelabu berbentuk kupu-kupu, sedangkan bagian korteks berupa materi putih.
Otak mempunyai lima bagian utama, yaitu: otak besar (serebrum), otak tengah (mesensefalon), otak kecil (serebelum), sumsum sambung (medulla oblongata), dan jembatan varol.
1. Otak Besar (Serebrum)
Otak besar mempunyai fungsi dalam pengaturan semua
aktifitas mental yang berkaitan
dengan kepandaian (intelegensi), ingatan (memori), kesadaran, dan pertimbangan.
Otak besar merupakan sumber dari semua kegiatan atau gerakan sadar atau sesuai dengan kehendak. Pada bagian korteks serebrum yang berwarna kelabu
terdapat bagian penerima rangsang (area
sensor) yang terletak di sebelah belakang area motor yang berfungsi mengatur gerakan sadar atau
merespon rangsangan. Selain itu terdapat area asosiasi yang menghubungkan area
motor dan sensorik. Area ini berperan dalam proses belajar, menyimpan ingatan,
membuat kesimpulan, dan belajar berbagai bahasa. Di sekitar kedua area tersebut
merupakan bagian
yang mengatur kegiatan psikologi yang lebih tinggi. Misalnya bagian depan
merupakan pusat proses berfikir (mengingat, analisis, berbicara, dan kreativitas) dan
emosi. Pusat penglihatan terdapat di bagian belakang.
2. Otak Tengah (Mesensefalon)
Otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan
varol. Di depan otak tengah terdapat thalamus dan kelenjar hipofisis yang mengatur kerja
kelenjar-kelenjar endokrin. Bagian atas (dorsal) otak tengah merupakan lobus
optikus yang mengatur refleks mata seperti penyempitan pupil mata, dan juga
merupakan pusat pendengaran.
3. Otak Kecil (Serebelum)
Serebelum mempunyai fungsi utama dalam koordinasi gerakan
otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau berbahaya
maka gerakan sadar yang normal tidak mungkin dilaksanakan.
4. Sumsum Sambung (Medulla Oblongata)
Sumsum sambung berfungsi menghantar impuls yang datang
dari medula spinalis menuju ke otak.
Sumsum sambung juga mempengaruhi refleks fisiologi seperti detak jantung, tekanan darah,
volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan serta sekresi kelenjar
pencernaan. Sumsum sambung mengatur gerak refleks yang lain seperti bersin,
batuk, dan berkedip.
5. Jembatan Varol (Pons Varoli)
Jembatan varol berisi serabut saraf yang menghubungkan
otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar dan sumsum
tulang belakang.
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang tampak
bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam berbentuk kupu-kupu dan
berwarna kelabu. Pada penampang melintang sumsum tulang belakang ada bagian
seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan
sayap bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor
dihantar masuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor
keluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada
tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan
menerima impuls dari sel saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf
motor.
Pada bagian putih terdapat serabut saraf asosiasi.
Kumpulan serabut saraf membentuk saraf (urat saraf). Urat saraf yang membawa
impuls ke otak merupakan saluran asenden dan yang membawa impuls yang berupa
perintah dari otak merupakan saluran desenden.
D.
Sistem Saraf Tepi
Susunan saraf tepi terdiri atas serabut saraf otak dan
serabut saraf sumsum tulang belakang (spinal).
Serabut saraf sumsum dari otak, keluar dari otak sedangkan serabut saraf sumsum
tulang belakang keluar dari sela-sela ruas tulang belakang. Tiap pasang serabut
saraf otak akan menuju ke alat tubuh atau otot, misalnya ke hidung, mata, dan telinga. Sistem
saraf tepi terdiri atas serabut saraf sensorik dan motorik yang membawa impuls
saraf menuju ke dan dari sistem saraf pusat. Sistem saraf tepi terdiri atas sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar (sistem
saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur
oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur
otak antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan, dan sekresi
keringat.
- Sistem Saraf Sadar
Sistem saraf sadar disusun oleh saraf otak (saraf
kranial) yaitu saraf-saraf yang keluar dari otak dan saraf sumsum tulang
belakang yaitu saraf-saraf yang keluar dari sumsum tulang belakang.
Saraf otak ada 12 pasang yang terdiri dari:
a. Tiga
pasang saraf sensori
b. Lima
pasang saraf motor
c. Empat
pasang saraf gabungan sensori dan motor
Saraf otak dikhususkan untuk daerah kepala dan leher,
kecuali nervus vagus yang melewati
leher ke bawah sampai daerah toraks
dan rongga perut. Nervus vagus
membentuk bagian saraf otonom. Nervus vagus
disebut saraf pengembara karena daerah jangkauannya sangat luas dan sekaligus merupakan
saraf otak yang paling penting.
Saraf sumsum tulang belakang berjumlah 31 pasang saraf
gabungan. Berdasarkan asalnya, saraf sumsum tulang belakang dibedakan atas 8
pasang saraf leher, 12 pasang saraf punggung, 5 pasang saraf pinggang, 5 pasang
saraf pinggul, dan 1 pasang
saraf ekor.
Beberapa urat saraf bersatu membentuk jaringan urat saraf
yang disebut pleksus. Ada 3 buah pleksus
yaitu sebagai berikut:
a. Pleksus
cervicalis merupakan gabungan urat saraf leher yang mempengaruhi
bagian leher, bahu, dan diafragma.
b. Pleksus
brachialis mempengaruhi bagian tangan.
c. Pleksus jumbo
sakralis yang mempengaruhi bagian pinggul dan kaki.
- Saraf Otonom
Sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal
dari otak maupun dari sumsum tulang belakang dan menuju organ yang
bersangkutan. Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan masing-masing jalur
membentuk sinapsis yang kompleks dan juga membentuk ganglion. Urat saraf yang
terdapat pada pangkal ganglion disebut urat saraf pra ganglion dan yang
berada pada ujung ganglion disebut urat saraf post ganglion.
Sistem saraf otonom dapat dibagi atas sistem saraf simpatik
dan sistem saraf parasimpatik. Perbedaan struktur antara saraf
simpatik dan parasimpatik terletak pada posisi ganglion. Saraf simpatik
mempunyai ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang menempel pada
sumsum tulang belakang sehingga mempunyai
urat pra ganglion pendek. Sedangkan saraf parasimpatik mempunyai urat pra
ganglion yang panjang karena ganglion menempel pada organ yang
dibantu.
Fungsi sistem saraf simpatik dan parasimpatik selalu
berlawanan (antagonis). Sistem saraf parasimpatik terdiri dari keseluruhan nervus vagus bersama cabang-cabangnya ditambah dengan beberapa saraf
otak lain dan saraf sumsum sambung.
Tabel Fungsi Saraf Otonom
|
Parasimpatik
|
Simpatik
|
|
mengecilkan pupil
|
memperbesar
pupil
|
|
menstimulasi
aliran ludah
|
menghambat
aliran ludah
|
|
memperlambat
denyut jantung
|
mempercepat
denyut jantung
|
|
membesarkan
bronkus
|
mengecilkan
bronkus
|
|
menstimulasi
sekresi kelenjar pencernaan
|
menghambat
sekresi kelenjar pencernaan
|
|
mengerutkan
kantung kemih
|
menghambat
kontraksi kandung kemih
|
E.
Saraf Sensorik
Fungsi sel saraf sensorik adalah menghantar impuls dari
reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak (ensefalon)
dan sumsum belakang (medula spinalis).
Ujung axon dari saraf sensori berhubungan dengan saraf
asosiasi (intermediet). Sel saraf sensorik disebut juga dengan sel saraf indra
karena berhubungan dengan alat indra.
Gerak dapat dilakukan secara sadar (gerak biasa) dan
secara tidak sadar (gerak reflek). Perbedaan dari kedua macam gerak tersebut
adalah berkaitan dengan jalannya impuls saraf yang melewati sistem saraf pusat,
yaitu jika impuls melewati otak maka gerak yang dilakukan sebagai hasil respon
dari otak dinamakan gerak sadar, sedangkan jika impuls tidak melewati otak tetapi sumsum tulang belakang, maka
gerak yang dihasilkan sebagai respon dari sumsum tulang belakang dinamakan
gerak reflek. Adapun macam gerak
refleks sebagai berikut:
1.
Refleks Spinal (sumsum
tulang belakang)
Bila dipisahkan dari bagian otak lainnya, medspin
mampu memediasi sejumlah refleks, somatik dan autonomik. Dasar morfologis
refleks saraf umumnya disebut arkus refleks, yang dalam bentuknya yang paling
sederhana tersusun atas: (1) reseptor, yang bereaksi terhadap stimulus; (2) penghantar eferen, yang
membawa impuls ke pusat refleks (penghantar aferen adalah serabut sensorik
aferen yang kebanyakan mempunyai badan sel di ganglion
spinal atau kranial); (3) pusat refleks merupakan tempat pesan aferen dari
reseptor berkumpul dengan impuls aferen dari reseptor lainnya, atau dengan
aferen dari sumber lain, yang mungkin mengubah pengaruh impuls aferen dari
reseptor; (4) penghantar eferen, yaitu serabut saraf yang menuju ke efektor;
(5) efektor merupakan
bagian yang menghasilkan reaksi (otot dan
kelenjar atau vasa darah).
2.
Refleks Cerebellar
(melibatkan otak kecil)
Otak kecil terletak di bawah bagian belakang otak belakang yang terdiri atas dua belahan yang berliku-liku sangat
dalam. Otak kecil berperan sebagai pusat keseimbangan, koordinasi kegiatan
otak, koordinasi kerja otot dan rangka. Medula oblongata membentuk bagian bawah batang otak yang berfungsi sebagai pusat pengatur refleks
fisiologis (pernapasan, detak jantung,
tekanan darah, suhu tubuh, gerak alat pencernaan, gerak refleks seperti batuk,
bersin, dan mata berkedip).
3.
Refleks Superficial
Refleks superficial atau
refleks plantar dan abdominal diawali oleh stimulasi kutan. Refleks ini
membutuhkan lengkung refleks korda dan jalur kortikospinal. Contoh dari
refleks superficial adalah:
a. Refleks dinding
perut: goresan dinding perut daerah epigastrik, supra umbilikal, umbilikal,
intra umbilikal dari lateral ke medial. Respon berupa kontraksi dinding perut
b. Refleks cremaster:
goresan pada kulit paha sebelah medial dari atas ke bawah. Respon berupa elevasi testes ipsilateral.
c. Refleks gluteal:
goresan atau tusukan pada daerah gluteal. Respon berupa gerakan reflektorik otot gluteal ipsilateral
4.
Refleks Visceral
Refleks visceral ini sering disebut juga refleks otonom karena sering
melibatkan organ internal tubuh. Refleks visceral (urinasi dan defekasi) merupakan refleks spinal yang bisa terjadi tanpa input dari otak. Refleks spinal
dimodulasi oleh excitatory atau inhibitory signal dari otak yang dibawa oleh jaras descending dari pusat otak yang lebih tinggi. Urinasi dapat diinisiasi secara sadar dengan
kesadaran atau bisa juga dihambat oleh stres dan emosi.
Refleks visceral lain diintegrasikan di otak (hipotalamus, thalamus, dan batang otak). Daerah ini berisi pusat koordinasi yang
dibutuhkan untuk menjaga homeostatis seperti detak jantung, tekanan darah,
nafas, makan, keseimbangan air, dan menjaga
temperatur. Di sini juga ada pusat refleks seperti salivating, muntah, bersin,
batuk, menelan, dan tersendak.
F. Reseptor Sensorik
Reseptor sensorik merupakan struktur saraf
yang terletak di seluruh jaringan tubuh dan menyediakan informasi mengenai
keadaan jaringan bagi CNS melalui neuron
afferen. Reseptor spesifik
menyediakan informasi yang spesifik pula seperti:
- Nosiseptor berhubungan dengan rasa sakit dan ketidaknyamanan
- Propioseptor berhubungan dengan posisi dan pergerakan mandibula
- Interoseptor berhubungan dengan keadaan organ dalam
Semua input yang diterima reseptor menjadikan korteks dan batang otak
mengkoordinasi kerja otot untuk merespon dengan tepat. Tiga tipe utama reseptor sensorik pada sistem mastikasi (pengunyahan):
- Muscle Spindle
Muscle
spindle adalah organ deria yang terdapat dalam struktur otot tubuh manusia. Muscle spindle adalah sejenis proprioceptor yang merupakan deria dalam
otot yang mengenal pasti lokasi bahagian badan manusia. Muscle spindle akan memantau keadaan otot yang semakin memanjang
dan apabila maklumat mengenai keadaan otot disalurkan ke otak, maka akan
membuatkan seseorang itu merasakan seperti ada suatu ruang di tubuh mereka. Muscle spindle secara morfologis
dan fungsional paling banyak diketahui dan organisasinya paling kompleks. Muscle spindle terdapat di semua otot
alat lokomotor dan pada
beberapa otot jang diinervasi saraf kranial, misalnya otot larynx, otot
mastikasi, lidah, dan otot ekstraokular. Jumlah muscle spindle sangat bervariasi pada berbagai otot. Otot yang
dipakai untuk gerak yang halus mempunyai lebih banyak muscle spindle dibandingkan dengan otot yang digunakan untuk gerak
kasar.
- Tendon Golgi
Tendon adalah
struktur yang menyambung otot pada tulang. Tendon golgi dihasilkan oleh kolagen dan juga mengandung sel saraf. Struktur ini juga disebut sebagai organ tendon
atau organ neurotendinous.
- Korpus Pacini
Organ berbentuk oval yang terbuat dari lamela konsentrik jaringan ikat dan tersebar secara luas. Korpus pacini lebih banyak berlokasi di sendi, maka korpus pacini dipertimbangkan
merespon persepsi pergerakan dan tekanan yang keras, bukan sentuhan yang
ringan. Korpus pacini ditemukan di tendon, sendi, periosteum, insersi tendon, dan fascia. Tekanan yang mengenai
jaringan dan merusak organ akan menstimulasi serat saraf.
BAB III
PENUTUP
Sistem saraf merupakan
sistem koordinasi atau sistem kontrol yang bertugas menerima rangsangan dan
menyalurkan ke seluruh bagian tubuh sekaligus memberikan tanggapan terhadap
rangsangan tersebut (jaringan komunikasi dalam tubuh). Sistem saraf
memungkinkan makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan
yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam.
Berdasarkan struktur dan fungsinya, sel saraf dapat dibagi menjadi 3
kelompok, yaitu sel saraf sensori, sel saraf motor, dan sel saraf intermediet
(asosiasi). Berdasarkan
macamnya, sistem saraf itu meliputi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi.
Sistem saraf pusat meliputi otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang (medula
spinalis). Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang
sangat penting maka perlu perlindungan. Susunan saraf tepi terdiri atas serabut
saraf otak dan serabut saraf sumsum tulang belakang (spinal). Serabut saraf
sumsum dari otak, keluar dari otak sedangkan serabut saraf sumsum tulang
belakang keluar dari sela-sela ruas tulang belakang.
DAFTAR PUSTAKA
Hamill, J and Knuzen, K.
2009. Biomechanical Basis of Human
Movement. Philadelpha: Lippicott Williams.
Pack, P. E. 2001. Biology 2nd Edition Cliffs. New York: Hungry
Minds.
Rae-Dupree, J. and Pat,
D. 2007. Anatomy and Physiology for
Dummies. Indiana: Wiley Publishing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar